Produk Chitosan dari Limbah
Perikanan yang Kaya Akan Manfaat
Bagi Kesehatan Manusia
Muhammad Nafis Rahman (F14090119)
Tingkat Persiapan Bersama
Bogor Agricultural University http://www.ipb.ac.id
Indonesia adalah negara yang memiliki luas laut berkisar 70% dari luas wilayah Indonesia. Hal ini tentu menjadi potensi perikanan yang besar untuk kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Oleh karena itu tentu hasil dari perikanan Indonesia sangat besar, sebagai contoh adalah potensi sumber daya udang sebesar 94,8 ribu ton dari 6,4 juta ton per tahun potensi sumber daya ikan laut Indonesia atau 7,5 % total stok ikan laut di dunia.
Sumber daya perikanan Indonesia yang sedemikian besar tersebut perlu adanya penanganan yang lebih maksimal agar hasil yang didapat juga lebih maksimal, saat ini produk perikanan lebih dikonsumsi dalam bentuk makanan karena memang memiliki protein yang tinggi tetapi sebenarnya produk olahan-olahan dari hasil perikanan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki manfaat lebih, seperti dikembangkan untuk obat-obatan, kosmetik, sumber energi, maupun sebagai pengganti bahan baku dari pembuatan plastik. Hal tersebut telah menjadi pemikiran bersama akan pentingnya pengembangan produk olahan perikanan, sebagai contoh adalah pengembangan produk yang berasal dari limbah pengolahan udang untuk kemudian diolah menjadi produk kesehatan yakni chitosan.
Apakah Chitosan itu?
Chitosan adalah polisakarida linier yang merupakan produk turunan dari kitin, yaitu hasil samping dari limbah kulit kepiting, udang, dan sejenisnya. Chitosan tersusun atas β-(1-4)-terikat pada D-glucosamin (bagian deasitelisasi) dan C-acetyl-D-glucosamin (bagian asetilisasi).
Chitosan dihasilkan dari kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya dan menyisakan gugus amina bebas yang menjadikannya bersifat polikationik. Umumnya chitosan larut dalam pelarut asam organik seperti asam asetat serta memiliki kemampuan mengikat lipid dan lemak. Di dalam tubuh, chitosan ini juga berperan sebagai serat, yang sangat dibutuhkan dalam tubuh dalam membersihkan saluran pencernaan, menstimulisasi proses pencernaan, dan menyehatkan usus. Chitosan sendiri tidak mengandung kalori. Ketika diminum, chitosan melekatkan diri pada usus, dan mengikat lemak yang lewat di dalam usus sebelum diserap oleh darah dan akan dibuang melalui saluran pencernaan. Dengan kata lain, chitosan mampu mengurangi penyerapan lemak, selain itu olahan chitosan juga dapat dikembangkan untuk biomedis, chitosan digunakan pada pembalut luka untuk pembekuan darah yang memiliki sifat antibakteri dan mikroba. Maka tidak mengherankan jika sekarang banyak produk chitosan yang digunakan untuk kesehatan (Hardjito.2009)
Karena chitosan terbuat dari ekstrak kulit udang atau sejenisnya dan memiliki kemampuan sebagai suplemen pembakar lemak (fat burner).Sehngga sangat baik untuk dikonsumsi setelah makan agar pengkonsumsi chitosan ini terhindar dari obesitas disebabkan banyaknya tumpukan lemak. Selain itu, bubuk chitosan juga mempunyai kemmapuan koagulasi, misalnya apabila apabila bubuk tersebut dimasukan kedalam gelas berisi air dan minyak sawit, maka minyak tersebut akan terkoagulasi menjadi gumpalan-gumpalan. Disamping kemampuan tersebut, chitosan berfungsi sebagai antimikroba.
Dari keunggulan-keunggulan chitosan tersebut maka perkembangan dari produk olahan chitosan perlu untuk terus dilakukann, sehingga menjadi produk yang lebih mudah digunakan dan memiliki manfaat yang lebih bagi manusia, khususnya dalam bidang kesehatan, misalnya sebagai bahan suplemen bagi manusia, karena bahan suplemen makanan saat ini banyak yang membahayakan bagi tubuh manusia karena zat kimia yang terkandung dalam obat-obatan suplemen tersebut terus akan terendap dalam tubuh manusia sehingga akan berdampak pada kestabilan fungsi organ tubuh yang terganggu dan berimplikasi pada lemahnya daya tahan tubuh karena kondisi ketidakseimbangan tersebut.
Sebagai negara yang memiliki kemampuan untuk memenuhi bahan baku chitosan. sudah saatnya Indonesia terus mengembangkan produk olahan chitosan sehingga akan bermanfaat bagi kesehatan khususnya kesehatan masyarakat Indonesia dan akan menghindari penggunaan suplemen yang memiliki kandungan zat kimia yang tinggi.
Hal ini yang mendorong Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan C.V. Dinar untuk terus meneliti kandungan chitosan dan memproduksi dalam skala yang besar untuk berbagai keperluan seperti penganti bahan baku plastik, maupun menjadi bahan pengawet seperti halnya formalin yang penggunaannya sangat berbahaya bagi kesehatan, untuk itu digunakanlah chitosan.
Berbagai bahan obat dan suplemen (nutraceutical) yang sedang dikembangkan adalah antimikroba (pengawet), antipenuaan, antitumor/antikanker, antikolesterol, bahan kosmetik (tabir surya, pewarna alami). Untuk pengembangan produk tersebut IPB menjalin kerjasama dengan Virnginia Polytechnic Institute & State University, USA khususnya untuk penentuan struktur kimia bahan obat/suplemen. Kerjasama ini berlangsung dari 2003 hingga 2008,
dan mengharapkan komersialisasi chitosan sebagai pengganti formalin dan borax dapat meningkatkan kontribusi CV. Dinar dan IPB dalam meningkatkan perekonomian nelayan serta mencerdaskan putra-putri mereka. Dalam penyediaan bahan baku IPB dan CV Dinar melibatkan ratusan nelayan yang tersebar di berbagai lokasi di Indonesia.
Proses pembuatan chitosan
Proses pembuatan Chitosan meliputi beberapa tahapan, Proses utama dalam pembuatan "chitosan" meliputi penghilangan protein dan kandungan mineral melalui proses kimiawi yang disebut "deproteinasi" dan "demineralisasi" yang masing-masing dilakukan dengan menggunakan larutan basa dan asam.
Selanjutnya, chitosan diperoleh melalui proses deasetilasi dengan cara memanaskan dalam larutan basa. Karakteristik fisiko-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal dapat larut dalam larutan asam organik, tetapi tidak larut dalam pelarut organik lainnya. Pelarut chitosan yang baik adalah asam asetat. Chitosan sedikit mudah larut dalam air dan mempunyai muatan positif kuat yang dapat mengikat muatan negatif dari senyawa lain serta mudah mengalami degradasi secara biologis dan hal lainnya adalah chitosan tidak beracun.
Dalam uji-riset tentang pengawetan yang dilakukan oleh Departemen THP IPB didapat bahwa chitosan pada berbagai konsentrasi dilarutkan dalam asam asetat, kemudian ikan asin yang akan diawetkan dicelupkan beberapa saat dan ditiriskan. Beberapa indikator parameter daya awet hasil pengujian antara lain pertama pada keefektifan dalam mengurangi jumlah lalat yang hinggap, di mana pada konsentrasi chitosan 1,5 persen dapat mengurangi jumlah lalat secara signifikan.
Manfaat olahan chitosan untuk kesehatan
Manfaat dari produk olahan chitosan jika dijadikan sebuah suplemen atau bentuk obat-obatan yang lain banyak sekali, produk-produk tersebut dapat berupa kapsul ataupun bentuk yang lain yang siap untuk dikonsumsi sebagai suplemen makanan yang sehat. Selain itu chitosan tidak memiliki efek pada penumpukan zat kimia dalam ginjal, seperti halnya pengaruh obat-obatan kimiawi.
1. Menghambat Pertumbuhan Tumor.
Hasil olahan chitosan berkhasiat memperkuat kekebalan sel-sel tubuh, mengaktifkan daya hidup sel Limpa, menaikkan nilai pH cairan tubuh sehingga menciptakan lingkungan Basa, memperkuat daya serang tubuh terhadap sel kanker, meningkatkan fungsi pembunuh sel kanker. Dalam riset anti tumor, ditemukan bahwa hasil olahan chitosan mempunyai daya penekan terhadap penyebaran sel tumor, sekaligus merangsang kemampuan kekebalan tubuh, mendorong tumbuhnya sel T Limphe dari pankreas. Bahaya kanker terletak pada kemungkinan peralihannya. Chitosan juga mempunyai kemampuan menempel pada molekul-molekul sel dipermukaan bagian dalam pembuluh darah. Dengan demikian mencegah sel tumor menempel pada sel permukaan bagian.
2. Memperkuat Fungsi Hati
Hasil olahan chitosan juga dapat menekan penyerapan kolesterol oleh usus kecil sehingga menurunkan tingkat kekentalan kolesterol dalam darah, pada gilirannya mencegah penumpukan kolesterol jahat pada hati. Biasanya kalau sudah terasa tidak enak pada bagian hati, saat itu hati sudah mengalami kerusakan parah. Chitosan dapat berperan dalam menekan meningkatnya kandungan kolesterol dalam darah, mencegah penumpukan lemak hati.dalam pembuluh darah, berarti mencegah perembesan jaringan kanker ke daerah sekitar.
3. Mencegah Penyakit Kencing Manis
Faktor utama yang memicu terjadinya penyakit kencing manis adalah kurangnya jumlah sekresi absolut maupun sekresi relatif insulin dari pankreas sehingga menimbulkan kekacauan. Ketika tubuh dalam kondisi Basa, maka meningkat pula laju pemanfaatan insulin. Keadaan ini sekaligus akan mengatur kondisi keasaman cairan tubuh yang ditimbulkan oleh produksi asam organik berlebih karena terurainya lemak di dalam tubuh.
Chitosan berdaya rekat tinggi, sehingga jumlahnya akan memadai di dalam saluran usus. Keadaan ini dapat mengurangi penyerapan usus terhadap glukosa yang ada di dalam makanan, jadi mengurangi atau menunda terjadinya nilai puncak glukosa darah, sehingga tercapai efek pencegahan penyakit kencing manis.
4. Menurunkan Tekanan Darah
Chitosan dapat mengurangi penyerapan tubuh terhadap ion-ion khlor, di bawah pengaruh asam lambung akan terjadi muatan positif dari gen-gen ion positif yang bergabung dengan ion-ion khlor, mengurangi kekentalan ion khlor di dalam gula darah, meningkatkan fungsi pembesaran pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan tekanan darah.
Manfaat Chitosan yang lain :
1. Zat kerak (Crust) mengaktifkan sel-sel tubuh agar berfungsi menambah daya kekebalan,
2. Memperlambat penuaan,
3. Mengharmoniskan organ tubuh,
4. Memelihara hati dan mengurai racun.
Kandungan chitosan terhadap tubuh
1. Memperkuat kekebalan sel tubuh / menambah daya kekebalan.
2. Mengaktifkan daya hidup sel limpa.
3. Menaikkan nilai PH cairan tubuh, sehingga menciptakan lingkungan basa.
4. Mengharmoniskan organ-organ tubuh.
5. Mengurangi / memusnahkan racun.
6. Mencegah cedera akibat radiasi (penyaring sinar ultraviolet).
Terhadap kanker atau tumor
1. Memperkuat daya sel tubuh terhadap sel kanker.
2. Meningkatkan fungsi pembunuh sel kanker.
3. Berdaya menekan penyebaran sel kankerl tumor.
Terhadap Darah
1. Menurunkan Hipertensi dan menekan penyerapan kolesterol tinggi.
2. Menstabilkan tekanan darah.
Terhaadap Hati
1. Memperkuat fungsi & memelihara hati.
2. Mencegah penumpukan.
Terhadap Diabetes
Memiliki daya rekat tinggi yang dapat mengurangi penyerapan usus terhadap glukosa dalam makanan dan mengurangi terjadinya nilai puncak darah, yang akhirnya dapat mencegah terjadinya kencing manis (Susilo.2008).
Manfaat Chitosan dalam bahan pengawet makanan
Manfaat dari olahan chitosan banyak sekali misal hasil olahan chitosan untuk membuat bahan pengganti minyak bumi untuk membuat plastik, hal ini lebih ramah lingkungan karena plastik yang terbuat dari chitosan dapat terurai kembali dalam waktu yang relatif singkat jika dibandingkan dengan plastik dari minyak bumi sehingga tidak akan membuat pencemaran terhadap lingkungan.Manfaat Yang lain dari olahan chitosan untuk bahan pangan yang sehat adalah sebagai pengganti formalin yang sangat berbahaya jika digunakan sebagai pengawet makanan, dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh IPB dengan menggunakan ikan asin sebagai objek pengawetan didapat bahwa Pada penelitian tahun 1 (pertama) diperoleh hasil sebagai berikut : hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi limbah kulit udang dihasilkan chitosan dengan rendemen sebesar 15% bahan edible coating. Karkateristik chitosan sesuai dengan standar Protan Laboratories. Formulasi terbaik untuk pembuatan edible coating dengan chitosan 1,5%. Dari hasil organoleptik mutu hedomik, perlakuan chitosan nilai 6,6 perlakuan formalin 5,8 dan kontrol 4,9. Analisis uji organoleptik dilakukan dengan uji statistik Kruskal-Wallis dan uji lanjut multiple comparison diperoleh hasil perlakuan chitosan lebih baik dibanding dengan kontrol dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan formalin, tetapi dari penampakan perlakuan chitosan lebih baik dibanding perlakuan formalin. Pada uji mutu hedonik penampakan diperoleh bahwa perlakuan dengan pelapisan chitosan sampai minggu ke-8 memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol. Standar nilai organoleptik SNI-Ikan asin 6,5. Nilai 6,8 pada perlakuan kontrol pada minggu ke-2. Nilai 6,7 pada perlakuan formalin pada minggu ke-4 dan nilai 6,8 pada perlakuan chitosan pada minggu ke-4. Pada uji mutu hedonik rasa perlakuan pelapisan chitosan tidak berbeda nyata dengan perlakuan formalin dan kontrol sampai pada penyimpanan minggu ke-8. Pada minggu ke-4 semua perlakuan nilai 6,4. Pada uji mutu hedonik bau perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang terbaik pada minggu ke-8 dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata pada minggu ke 2, 4 dan 6. Nilai 6,4 dan 6,1 perlakuan chitosan dan formalin pada minggu ke-4. Sedangkan 6,7 pada minggu ke-2 pada perlakuan kontrol. Pada uji mutu hedonik konsistensi perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan kontrol tetapi tidak berbeda nyata dengan formalin pada minggu ke-4 dan minggu ke-8. Pada minggu ke-8 perlakuan chitosan dan formalin nilai 6,4 dan 6,7. Sedangkan kontrol pada minggu ke-2 nilai 6,9. Pada uji Total Plat Count (TPC) bakteri, perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang lebih baik dalam menekan pertumbuhan bakteri selama penyimpanan (sampai minggu ke-8) dibanding formalin dan kontrol. Nilai masih sesuai standar SNI 1 x 105. Pada uji E.coli semua perlakuan memberikan hasil yang negatif. Pada uji kapang, perlakuan dengan pelapisan chitosan dan formalin mulai tampak ada jamur pada minggu ke-9, sedangkan pada kontrol pada minggu ke-4. Pada uji TVB, perlakuan pelapisan chitosan nilainya lebih rendah dibanding kontrol selama penyimpanan, tetapi lebih tinggi dibanding dengan perlakuan formalin. Sedangkan pada uji TBA, perlakuan chitosan mampu menekan oksidasi lemak dibanding kontrol tetapi nilai TBAnya masih diatas perlakuan formalin. Secara umum nilai TBA masih baik kurang dari 3 mg, malonaldehid/kg sample. Pada uji nilai aktvitias ari (aw), perlakuan chitosan mampu menurunkan nilai aw dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan formalin dan kontrol. Pada uji lanjut BNJ proksimat. Kadar air perlakuan formalin lebih tinggi dibanding dengan perlakuan pelapisanchitosan dan kontrol, tetapi pelapisan chitosan kadar airnya lebih tinggi dibanding dengan kontrol, tetapi 3 perlakuan nilainya masih diatas standar (kadar air 40%). Pada uji protein, perlakuan chitosan berbeda nyata dibanding dengan kontrol. Kandungan protein lebih tinggi dibanding dengan kontrol. Kandungan protein berkisar 34,61-37,64%. Pada uji kadar lemak, perlakuan formalin kandungan lemaknya tidak berbeda nyata dibanding perlakuan chitosan dan kontrol. Pada uji kadar abu perlakuan kitosan lebih tinggi dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol. Nilai berkisar 16,7-18,9. Daya awet ikan asin cucut dengan pemberian perlakuan chitosan selama 3 bulan dan formalin 3 bulan 2 minggu dan kontrol selama 2 bulan. Pada penelitian tahun ke 2 (dua) diperoleh hasil sebagai berikut : rendemen chitosan10% dari bahan baku rajungan. Proses ekstrasi diperoleh hasil yang optimal dengan HCI 2N. Rajungan yang diperoleh memperoleh spesifikasi sebagai berikut : kadar air 7,54%, kadar abu 0,75% derajat deasitilasi 75,42% dan kandungan Pb, Cu dan Zn tidak terdeteksi. Pada uji E.coli menunjukkan hasil negatif. Pada pembuatan edible coating (pengawet alami) formulasi terbaik dengan konsentrasi chitosan rajungan 1,5%. Pada uji nilai mutu hedonik kapang perlakuan kitosan 1,5% dan formalin 2% baru tampak adanya jamur pada minggu ke-10 dengan nilai hedonik 5,53 dan 6,87. Sedangkan pada kontrol pada minggu ke-4 sudah tampak adanya jamur, dengan nilai hedonik 6,33. Berdasarkan uji statistik pada uji aw tidak ada perbedaan yang nyata pada semua perlakuan. Selama penyimpanan cenderung mengalami kenaikan. Uji TPC pada perlakuan kontrol nilai TPC tidak sesuai SNI-Ikan asin pada minggu ke-10 yaitu 6,4 x 105. Sedangkan pada perlakuan chitosan dan formalin nilai TPC masih sesuai dengan SNI sampai pada minggu ke-12 yaitu dengan nilai 6,6 x 104 dan 7,4 x 104. Pada uji mutu hedonik organoleptik yang meliputi penampakkan, bau, rasa dan konsistensi diperoleh hasil sesuai dengan SNI-Ikan Asin 01-2721-1992 sampai pada penyimpanan minggu ke-12. Pada uji hedonik penampakkan berdasarkan uji multiple comparison perlakuan kitosan rajungan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada uji mutu hedonik bau berdasarkan uji analisis ragam tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan pada uji mutu hedonik rasa berdasarkan uji statistik tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Pada uji proksimat untuk kadar air berdasarkan uji statistik berbeda nyata dengan 2 perlakuan lainnya dan kadar airnya selama penyimpanan lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya dengan nilai pada penyimpanan ke-12 yaitu 39,21%. Pada uji kadar abu berdasarkan uji statistik tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan nilai pada semua perlakuan berkisar antara 14,73-15,1%. Pada uji kadar protein berdasarkan uji statistik memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan kandungan protein yang paling besar pada perlakuan chitosan dengan kisaran antara 23,21 - 37,15%. Pada uji kadar lemak berdasarkan uji statistik memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan kandungan yang paling rendah pada perlakuan kitosan dengan kisaran antara 0,43-0,99% selama penyimpanan (Suseno. 2006).
Kesimpulan
Manfaat hasil olahan chitosan sebenarnya masih banyak sekali dalam bidang yang lain. sehingga perlu adanya pengembangan lebih lanjut terhadap produk ini, sehingga akan tercipta produk bermanfaat untuk kesehatan dan dalam hal lainnya. Sebagai negara yang memiliki sumber bahan baku yang besar dalam memproduksi chitosan maka Indonesia harus terus mengembangkan produk ini, agar apa yang menjadi tujuan bersama yakni terwujudnya kemandirian pangan dan menjadi negeri yang sehat aakan tewujud tanpa mengandalkan produk-produk luar negeri.
Daftar Pustaka
(Anonim).2009. Chitosan new biotechnology sanitizer. Food Review, Edisi Agustus NO 4.PT.Media Pangan Indonesia; Bogor.
(Anonim).2010. Chitosan limbah kaya manfaat. Emulsi. Edisi Januari-Februari.Emulsimagzine; Bogor
(Anonim).2006. [Terhubung Berkala]. Chitosan Tingkatkan Mutu Agar-Agar Kertas Asal Garut. http://www.ipb.ac.id/id/?b=27. (13 Mei 2010).
(Anonim).2006.[Terhubunng Berkala].IPB Kerjasama CV. Dinar, Produksi Chitosan Pengganti Formalin.2006.http://www.ipb.ac.id/id/?b=12
(Anonim).2006.[Terhubung Berkala]. Disinyalir Penggunaan Formalin pada Makanan Kembali Marak.2006.http://www.ipb.ac.id/?b=48bstrak
Rismayadi, Y.2003.[TerhubungBerkal]. Teknologi Stabilisasi Dimensi Kayu Dengan Senyawa Khitosan Dari Limbah Cangkang Udang. http://lppm.ipb.ac.id/lppmipb/penelitian/caripenelitian.php?status=cari.(13 Mei 2010).
Suseno Heri,S.2006. [Terhubung Berkala]. Pembuatan Edible Coating dari Limbah Invertebrata Laut dan Pemanfaatannya sebagai bahan Pengawet Alami dalam Pengolahan Ikan Asin di Eretan, Indramayu. http://lppm.ipb.ac.id/lppmipb/penelitian/hasilcari.php?status=buka&id_haslit=HB/011.06/SUS/p . (13 Mei 2010)
Susilo, B.2008.[Terhubung Berkala].Suplemen Makanan Berkualitas Tinggi Mengatasi Penyakit Kencing Manis. http://jakartacity.olx.co.id/chitosan-capsules-chitin-capsules-tianshi-iid-17975022 (13 Mei 2010).
Ferdiansyah, Venol.2005. [Terubung Berkala]. Pemanfaatan kitosan cangkang udang sebagai matriks penyangga pada imobilisasi enzim protease.http://e-material.perpustakaan.ipb.ac.id/skripsi/2005/C/C05vfe.pdf . ( 13 Mei 2010).
Hardjito, L.209. [Terhubung Berkala]. Apakah Chitosan Itu ?.
http://chitosancarragenan.com/in/produk/bahandasar. (13 Mei 2010).
Sabtu, 15 Mei 2010
Produk Chitosan dari Limbah Perikanan yang Kaya Akan Manfaat Bagi Kesehatan Manusia
Produk Chitosan dari Limbah
Perikanan yang Kaya Akan Manfaat
Bagi Kesehatan Manusia
Muhammad Nafis Rahman (F14090119)
Tingkat Persiapan Bersama
Bogor Agricultural University http://www.ipb.ac.id
Indonesia adalah negara yang memiliki luas laut berkisar 70% dari luas wilayah Indonesia. Hal ini tentu menjadi potensi perikanan yang besar untuk kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Oleh karena itu tentu hasil dari perikanan Indonesia sangat besar, sebagai contoh adalah potensi sumber daya udang sebesar 94,8 ribu ton dari 6,4 juta ton per tahun potensi sumber daya ikan laut Indonesia atau 7,5 % total stok ikan laut di dunia.
Sumber daya perikanan Indonesia yang sedemikian besar tersebut perlu adanya penanganan yang lebih maksimal agar hasil yang didapat juga lebih maksimal, saat ini produk perikanan lebih dikonsumsi dalam bentuk makanan karena memang memiliki protein yang tinggi tetapi sebenarnya produk olahan-olahan dari hasil perikanan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki manfaat lebih, seperti dikembangkan untuk obat-obatan, kosmetik, sumber energi, maupun sebagai pengganti bahan baku dari pembuatan plastik. Hal tersebut telah menjadi pemikiran bersama akan pentingnya pengembangan produk olahan perikanan, sebagai contoh adalah pengembangan produk yang berasal dari limbah pengolahan udang untuk kemudian diolah menjadi produk kesehatan yakni chitosan.
Apakah Chitosan itu?
Chitosan adalah polisakarida linier yang merupakan produk turunan dari kitin, yaitu hasil samping dari limbah kulit kepiting, udang, dan sejenisnya. Chitosan tersusun atas β-(1-4)-terikat pada D-glucosamin (bagian deasitelisasi) dan C-acetyl-D-glucosamin (bagian asetilisasi).
Chitosan dihasilkan dari kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya dan menyisakan gugus amina bebas yang menjadikannya bersifat polikationik. Umumnya chitosan larut dalam pelarut asam organik seperti asam asetat serta memiliki kemampuan mengikat lipid dan lemak. Di dalam tubuh, chitosan ini juga berperan sebagai serat, yang sangat dibutuhkan dalam tubuh dalam membersihkan saluran pencernaan, menstimulisasi proses pencernaan, dan menyehatkan usus. Chitosan sendiri tidak mengandung kalori. Ketika diminum, chitosan melekatkan diri pada usus, dan mengikat lemak yang lewat di dalam usus sebelum diserap oleh darah dan akan dibuang melalui saluran pencernaan. Dengan kata lain, chitosan mampu mengurangi penyerapan lemak, selain itu olahan chitosan juga dapat dikembangkan untuk biomedis, chitosan digunakan pada pembalut luka untuk pembekuan darah yang memiliki sifat antibakteri dan mikroba. Maka tidak mengherankan jika sekarang banyak produk chitosan yang digunakan untuk kesehatan (Hardjito.2009)
Karena chitosan terbuat dari ekstrak kulit udang atau sejenisnya dan memiliki kemampuan sebagai suplemen pembakar lemak (fat burner).Sehngga sangat baik untuk dikonsumsi setelah makan agar pengkonsumsi chitosan ini terhindar dari obesitas disebabkan banyaknya tumpukan lemak. Selain itu, bubuk chitosan juga mempunyai kemmapuan koagulasi, misalnya apabila apabila bubuk tersebut dimasukan kedalam gelas berisi air dan minyak sawit, maka minyak tersebut akan terkoagulasi menjadi gumpalan-gumpalan. Disamping kemampuan tersebut, chitosan berfungsi sebagai antimikroba.
Dari keunggulan-keunggulan chitosan tersebut maka perkembangan dari produk olahan chitosan perlu untuk terus dilakukann, sehingga menjadi produk yang lebih mudah digunakan dan memiliki manfaat yang lebih bagi manusia, khususnya dalam bidang kesehatan, misalnya sebagai bahan suplemen bagi manusia, karena bahan suplemen makanan saat ini banyak yang membahayakan bagi tubuh manusia karena zat kimia yang terkandung dalam obat-obatan suplemen tersebut terus akan terendap dalam tubuh manusia sehingga akan berdampak pada kestabilan fungsi organ tubuh yang terganggu dan berimplikasi pada lemahnya daya tahan tubuh karena kondisi ketidakseimbangan tersebut.
Sebagai negara yang memiliki kemampuan untuk memenuhi bahan baku chitosan. sudah saatnya Indonesia terus mengembangkan produk olahan chitosan sehingga akan bermanfaat bagi kesehatan khususnya kesehatan masyarakat Indonesia dan akan menghindari penggunaan suplemen yang memiliki kandungan zat kimia yang tinggi.
Hal ini yang mendorong Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan C.V. Dinar untuk terus meneliti kandungan chitosan dan memproduksi dalam skala yang besar untuk berbagai keperluan seperti penganti bahan baku plastik, maupun menjadi bahan pengawet seperti halnya formalin yang penggunaannya sangat berbahaya bagi kesehatan, untuk itu digunakanlah chitosan.
Berbagai bahan obat dan suplemen (nutraceutical) yang sedang dikembangkan adalah antimikroba (pengawet), antipenuaan, antitumor/antikanker, antikolesterol, bahan kosmetik (tabir surya, pewarna alami). Untuk pengembangan produk tersebut IPB menjalin kerjasama dengan Virnginia Polytechnic Institute & State University, USA khususnya untuk penentuan struktur kimia bahan obat/suplemen. Kerjasama ini berlangsung dari 2003 hingga 2008,
dan mengharapkan komersialisasi chitosan sebagai pengganti formalin dan borax dapat meningkatkan kontribusi CV. Dinar dan IPB dalam meningkatkan perekonomian nelayan serta mencerdaskan putra-putri mereka. Dalam penyediaan bahan baku IPB dan CV Dinar melibatkan ratusan nelayan yang tersebar di berbagai lokasi di Indonesia.
Proses pembuatan chitosan
Proses pembuatan Chitosan meliputi beberapa tahapan, Proses utama dalam pembuatan "chitosan" meliputi penghilangan protein dan kandungan mineral melalui proses kimiawi yang disebut "deproteinasi" dan "demineralisasi" yang masing-masing dilakukan dengan menggunakan larutan basa dan asam.
Selanjutnya, chitosan diperoleh melalui proses deasetilasi dengan cara memanaskan dalam larutan basa. Karakteristik fisiko-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal dapat larut dalam larutan asam organik, tetapi tidak larut dalam pelarut organik lainnya. Pelarut chitosan yang baik adalah asam asetat. Chitosan sedikit mudah larut dalam air dan mempunyai muatan positif kuat yang dapat mengikat muatan negatif dari senyawa lain serta mudah mengalami degradasi secara biologis dan hal lainnya adalah chitosan tidak beracun.
Dalam uji-riset tentang pengawetan yang dilakukan oleh Departemen THP IPB didapat bahwa chitosan pada berbagai konsentrasi dilarutkan dalam asam asetat, kemudian ikan asin yang akan diawetkan dicelupkan beberapa saat dan ditiriskan. Beberapa indikator parameter daya awet hasil pengujian antara lain pertama pada keefektifan dalam mengurangi jumlah lalat yang hinggap, di mana pada konsentrasi chitosan 1,5 persen dapat mengurangi jumlah lalat secara signifikan.
Manfaat olahan chitosan untuk kesehatan
Manfaat dari produk olahan chitosan jika dijadikan sebuah suplemen atau bentuk obat-obatan yang lain banyak sekali, produk-produk tersebut dapat berupa kapsul ataupun bentuk yang lain yang siap untuk dikonsumsi sebagai suplemen makanan yang sehat. Selain itu chitosan tidak memiliki efek pada penumpukan zat kimia dalam ginjal, seperti halnya pengaruh obat-obatan kimiawi.
1. Menghambat Pertumbuhan Tumor.
Hasil olahan chitosan berkhasiat memperkuat kekebalan sel-sel tubuh, mengaktifkan daya hidup sel Limpa, menaikkan nilai pH cairan tubuh sehingga menciptakan lingkungan Basa, memperkuat daya serang tubuh terhadap sel kanker, meningkatkan fungsi pembunuh sel kanker. Dalam riset anti tumor, ditemukan bahwa hasil olahan chitosan mempunyai daya penekan terhadap penyebaran sel tumor, sekaligus merangsang kemampuan kekebalan tubuh, mendorong tumbuhnya sel T Limphe dari pankreas. Bahaya kanker terletak pada kemungkinan peralihannya. Chitosan juga mempunyai kemampuan menempel pada molekul-molekul sel dipermukaan bagian dalam pembuluh darah. Dengan demikian mencegah sel tumor menempel pada sel permukaan bagian.
2. Memperkuat Fungsi Hati
Hasil olahan chitosan juga dapat menekan penyerapan kolesterol oleh usus kecil sehingga menurunkan tingkat kekentalan kolesterol dalam darah, pada gilirannya mencegah penumpukan kolesterol jahat pada hati. Biasanya kalau sudah terasa tidak enak pada bagian hati, saat itu hati sudah mengalami kerusakan parah. Chitosan dapat berperan dalam menekan meningkatnya kandungan kolesterol dalam darah, mencegah penumpukan lemak hati.dalam pembuluh darah, berarti mencegah perembesan jaringan kanker ke daerah sekitar.
3. Mencegah Penyakit Kencing Manis
Faktor utama yang memicu terjadinya penyakit kencing manis adalah kurangnya jumlah sekresi absolut maupun sekresi relatif insulin dari pankreas sehingga menimbulkan kekacauan. Ketika tubuh dalam kondisi Basa, maka meningkat pula laju pemanfaatan insulin. Keadaan ini sekaligus akan mengatur kondisi keasaman cairan tubuh yang ditimbulkan oleh produksi asam organik berlebih karena terurainya lemak di dalam tubuh.
Chitosan berdaya rekat tinggi, sehingga jumlahnya akan memadai di dalam saluran usus. Keadaan ini dapat mengurangi penyerapan usus terhadap glukosa yang ada di dalam makanan, jadi mengurangi atau menunda terjadinya nilai puncak glukosa darah, sehingga tercapai efek pencegahan penyakit kencing manis.
4. Menurunkan Tekanan Darah
Chitosan dapat mengurangi penyerapan tubuh terhadap ion-ion khlor, di bawah pengaruh asam lambung akan terjadi muatan positif dari gen-gen ion positif yang bergabung dengan ion-ion khlor, mengurangi kekentalan ion khlor di dalam gula darah, meningkatkan fungsi pembesaran pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan tekanan darah.
Manfaat Chitosan yang lain :
1. Zat kerak (Crust) mengaktifkan sel-sel tubuh agar berfungsi menambah daya kekebalan,
2. Memperlambat penuaan,
3. Mengharmoniskan organ tubuh,
4. Memelihara hati dan mengurai racun.
Kandungan chitosan terhadap tubuh
1. Memperkuat kekebalan sel tubuh / menambah daya kekebalan.
2. Mengaktifkan daya hidup sel limpa.
3. Menaikkan nilai PH cairan tubuh, sehingga menciptakan lingkungan basa.
4. Mengharmoniskan organ-organ tubuh.
5. Mengurangi / memusnahkan racun.
6. Mencegah cedera akibat radiasi (penyaring sinar ultraviolet).
Terhadap kanker atau tumor
1. Memperkuat daya sel tubuh terhadap sel kanker.
2. Meningkatkan fungsi pembunuh sel kanker.
3. Berdaya menekan penyebaran sel kankerl tumor.
Terhadap Darah
1. Menurunkan Hipertensi dan menekan penyerapan kolesterol tinggi.
2. Menstabilkan tekanan darah.
Terhaadap Hati
1. Memperkuat fungsi & memelihara hati.
2. Mencegah penumpukan.
Terhadap Diabetes
Memiliki daya rekat tinggi yang dapat mengurangi penyerapan usus terhadap glukosa dalam makanan dan mengurangi terjadinya nilai puncak darah, yang akhirnya dapat mencegah terjadinya kencing manis (Susilo.2008).
Manfaat Chitosan dalam bahan pengawet makanan
Manfaat dari olahan chitosan banyak sekali misal hasil olahan chitosan untuk membuat bahan pengganti minyak bumi untuk membuat plastik, hal ini lebih ramah lingkungan karena plastik yang terbuat dari chitosan dapat terurai kembali dalam waktu yang relatif singkat jika dibandingkan dengan plastik dari minyak bumi sehingga tidak akan membuat pencemaran terhadap lingkungan.Manfaat Yang lain dari olahan chitosan untuk bahan pangan yang sehat adalah sebagai pengganti formalin yang sangat berbahaya jika digunakan sebagai pengawet makanan, dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh IPB dengan menggunakan ikan asin sebagai objek pengawetan didapat bahwa Pada penelitian tahun 1 (pertama) diperoleh hasil sebagai berikut : hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi limbah kulit udang dihasilkan chitosan dengan rendemen sebesar 15% bahan edible coating. Karkateristik chitosan sesuai dengan standar Protan Laboratories. Formulasi terbaik untuk pembuatan edible coating dengan chitosan 1,5%. Dari hasil organoleptik mutu hedomik, perlakuan chitosan nilai 6,6 perlakuan formalin 5,8 dan kontrol 4,9. Analisis uji organoleptik dilakukan dengan uji statistik Kruskal-Wallis dan uji lanjut multiple comparison diperoleh hasil perlakuan chitosan lebih baik dibanding dengan kontrol dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan formalin, tetapi dari penampakan perlakuan chitosan lebih baik dibanding perlakuan formalin. Pada uji mutu hedonik penampakan diperoleh bahwa perlakuan dengan pelapisan chitosan sampai minggu ke-8 memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol. Standar nilai organoleptik SNI-Ikan asin 6,5. Nilai 6,8 pada perlakuan kontrol pada minggu ke-2. Nilai 6,7 pada perlakuan formalin pada minggu ke-4 dan nilai 6,8 pada perlakuan chitosan pada minggu ke-4. Pada uji mutu hedonik rasa perlakuan pelapisan chitosan tidak berbeda nyata dengan perlakuan formalin dan kontrol sampai pada penyimpanan minggu ke-8. Pada minggu ke-4 semua perlakuan nilai 6,4. Pada uji mutu hedonik bau perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang terbaik pada minggu ke-8 dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata pada minggu ke 2, 4 dan 6. Nilai 6,4 dan 6,1 perlakuan chitosan dan formalin pada minggu ke-4. Sedangkan 6,7 pada minggu ke-2 pada perlakuan kontrol. Pada uji mutu hedonik konsistensi perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan kontrol tetapi tidak berbeda nyata dengan formalin pada minggu ke-4 dan minggu ke-8. Pada minggu ke-8 perlakuan chitosan dan formalin nilai 6,4 dan 6,7. Sedangkan kontrol pada minggu ke-2 nilai 6,9. Pada uji Total Plat Count (TPC) bakteri, perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang lebih baik dalam menekan pertumbuhan bakteri selama penyimpanan (sampai minggu ke-8) dibanding formalin dan kontrol. Nilai masih sesuai standar SNI 1 x 105. Pada uji E.coli semua perlakuan memberikan hasil yang negatif. Pada uji kapang, perlakuan dengan pelapisan chitosan dan formalin mulai tampak ada jamur pada minggu ke-9, sedangkan pada kontrol pada minggu ke-4. Pada uji TVB, perlakuan pelapisan chitosan nilainya lebih rendah dibanding kontrol selama penyimpanan, tetapi lebih tinggi dibanding dengan perlakuan formalin. Sedangkan pada uji TBA, perlakuan chitosan mampu menekan oksidasi lemak dibanding kontrol tetapi nilai TBAnya masih diatas perlakuan formalin. Secara umum nilai TBA masih baik kurang dari 3 mg, malonaldehid/kg sample. Pada uji nilai aktvitias ari (aw), perlakuan chitosan mampu menurunkan nilai aw dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan formalin dan kontrol. Pada uji lanjut BNJ proksimat. Kadar air perlakuan formalin lebih tinggi dibanding dengan perlakuan pelapisanchitosan dan kontrol, tetapi pelapisan chitosan kadar airnya lebih tinggi dibanding dengan kontrol, tetapi 3 perlakuan nilainya masih diatas standar (kadar air 40%). Pada uji protein, perlakuan chitosan berbeda nyata dibanding dengan kontrol. Kandungan protein lebih tinggi dibanding dengan kontrol. Kandungan protein berkisar 34,61-37,64%. Pada uji kadar lemak, perlakuan formalin kandungan lemaknya tidak berbeda nyata dibanding perlakuan chitosan dan kontrol. Pada uji kadar abu perlakuan kitosan lebih tinggi dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol. Nilai berkisar 16,7-18,9. Daya awet ikan asin cucut dengan pemberian perlakuan chitosan selama 3 bulan dan formalin 3 bulan 2 minggu dan kontrol selama 2 bulan. Pada penelitian tahun ke 2 (dua) diperoleh hasil sebagai berikut : rendemen chitosan10% dari bahan baku rajungan. Proses ekstrasi diperoleh hasil yang optimal dengan HCI 2N. Rajungan yang diperoleh memperoleh spesifikasi sebagai berikut : kadar air 7,54%, kadar abu 0,75% derajat deasitilasi 75,42% dan kandungan Pb, Cu dan Zn tidak terdeteksi. Pada uji E.coli menunjukkan hasil negatif. Pada pembuatan edible coating (pengawet alami) formulasi terbaik dengan konsentrasi chitosan rajungan 1,5%. Pada uji nilai mutu hedonik kapang perlakuan kitosan 1,5% dan formalin 2% baru tampak adanya jamur pada minggu ke-10 dengan nilai hedonik 5,53 dan 6,87. Sedangkan pada kontrol pada minggu ke-4 sudah tampak adanya jamur, dengan nilai hedonik 6,33. Berdasarkan uji statistik pada uji aw tidak ada perbedaan yang nyata pada semua perlakuan. Selama penyimpanan cenderung mengalami kenaikan. Uji TPC pada perlakuan kontrol nilai TPC tidak sesuai SNI-Ikan asin pada minggu ke-10 yaitu 6,4 x 105. Sedangkan pada perlakuan chitosan dan formalin nilai TPC masih sesuai dengan SNI sampai pada minggu ke-12 yaitu dengan nilai 6,6 x 104 dan 7,4 x 104. Pada uji mutu hedonik organoleptik yang meliputi penampakkan, bau, rasa dan konsistensi diperoleh hasil sesuai dengan SNI-Ikan Asin 01-2721-1992 sampai pada penyimpanan minggu ke-12. Pada uji hedonik penampakkan berdasarkan uji multiple comparison perlakuan kitosan rajungan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada uji mutu hedonik bau berdasarkan uji analisis ragam tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan pada uji mutu hedonik rasa berdasarkan uji statistik tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Pada uji proksimat untuk kadar air berdasarkan uji statistik berbeda nyata dengan 2 perlakuan lainnya dan kadar airnya selama penyimpanan lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya dengan nilai pada penyimpanan ke-12 yaitu 39,21%. Pada uji kadar abu berdasarkan uji statistik tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan nilai pada semua perlakuan berkisar antara 14,73-15,1%. Pada uji kadar protein berdasarkan uji statistik memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan kandungan protein yang paling besar pada perlakuan chitosan dengan kisaran antara 23,21 - 37,15%. Pada uji kadar lemak berdasarkan uji statistik memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan kandungan yang paling rendah pada perlakuan kitosan dengan kisaran antara 0,43-0,99% selama penyimpanan (Suseno. 2006).
Kesimpulan
Manfaat hasil olahan chitosan sebenarnya masih banyak sekali dalam bidang yang lain. sehingga perlu adanya pengembangan lebih lanjut terhadap produk ini, sehingga akan tercipta produk bermanfaat untuk kesehatan dan dalam hal lainnya. Sebagai negara yang memiliki sumber bahan baku yang besar dalam memproduksi chitosan maka Indonesia harus terus mengembangkan produk ini, agar apa yang menjadi tujuan bersama yakni terwujudnya kemandirian pangan dan menjadi negeri yang sehat aakan tewujud tanpa mengandalkan produk-produk luar negeri.
Daftar Pustaka
(Anonim).2009. Chitosan new biotechnology sanitizer. Food Review, Edisi Agustus NO 4.PT.Media Pangan Indonesia; Bogor.
(Anonim).2010. Chitosan limbah kaya manfaat. Emulsi. Edisi Januari-Februari.Emulsimagzine; Bogor
(Anonim).2006. [Terhubung Berkala]. Chitosan Tingkatkan Mutu Agar-Agar Kertas Asal Garut. http://www.ipb.ac.id/id/?b=27. (13 Mei 2010).
(Anonim).2006.[Terhubunng Berkala].IPB Kerjasama CV. Dinar, Produksi Chitosan Pengganti Formalin.2006.http://www.ipb.ac.id/id/?b=12
(Anonim).2006.[Terhubung Berkala]. Disinyalir Penggunaan Formalin pada Makanan Kembali Marak.2006.http://www.ipb.ac.id/?b=48bstrak
Rismayadi, Y.2003.[TerhubungBerkal]. Teknologi Stabilisasi Dimensi Kayu Dengan Senyawa Khitosan Dari Limbah Cangkang Udang. http://lppm.ipb.ac.id/lppmipb/penelitian/caripenelitian.php?status=cari.(13 Mei 2010).
Suseno Heri,S.2006. [Terhubung Berkala]. Pembuatan Edible Coating dari Limbah Invertebrata Laut dan Pemanfaatannya sebagai bahan Pengawet Alami dalam Pengolahan Ikan Asin di Eretan, Indramayu. http://lppm.ipb.ac.id/lppmipb/penelitian/hasilcari.php?status=buka&id_haslit=HB/011.06/SUS/p . (13 Mei 2010)
Susilo, B.2008.[Terhubung Berkala].Suplemen Makanan Berkualitas Tinggi Mengatasi Penyakit Kencing Manis. http://jakartacity.olx.co.id/chitosan-capsules-chitin-capsules-tianshi-iid-17975022 (13 Mei 2010).
Ferdiansyah, Venol.2005. [Terubung Berkala]. Pemanfaatan kitosan cangkang udang sebagai matriks penyangga pada imobilisasi enzim protease.http://e-material.perpustakaan.ipb.ac.id/skripsi/2005/C/C05vfe.pdf . ( 13 Mei 2010).
Hardjito, L.209. [Terhubung Berkala]. Apakah Chitosan Itu ?.
http://chitosancarragenan.com/in/produk/bahandasar. (13 Mei 2010).
Perikanan yang Kaya Akan Manfaat
Bagi Kesehatan Manusia
Muhammad Nafis Rahman (F14090119)
Tingkat Persiapan Bersama
Bogor Agricultural University http://www.ipb.ac.id
Indonesia adalah negara yang memiliki luas laut berkisar 70% dari luas wilayah Indonesia. Hal ini tentu menjadi potensi perikanan yang besar untuk kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Oleh karena itu tentu hasil dari perikanan Indonesia sangat besar, sebagai contoh adalah potensi sumber daya udang sebesar 94,8 ribu ton dari 6,4 juta ton per tahun potensi sumber daya ikan laut Indonesia atau 7,5 % total stok ikan laut di dunia.
Sumber daya perikanan Indonesia yang sedemikian besar tersebut perlu adanya penanganan yang lebih maksimal agar hasil yang didapat juga lebih maksimal, saat ini produk perikanan lebih dikonsumsi dalam bentuk makanan karena memang memiliki protein yang tinggi tetapi sebenarnya produk olahan-olahan dari hasil perikanan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki manfaat lebih, seperti dikembangkan untuk obat-obatan, kosmetik, sumber energi, maupun sebagai pengganti bahan baku dari pembuatan plastik. Hal tersebut telah menjadi pemikiran bersama akan pentingnya pengembangan produk olahan perikanan, sebagai contoh adalah pengembangan produk yang berasal dari limbah pengolahan udang untuk kemudian diolah menjadi produk kesehatan yakni chitosan.
Apakah Chitosan itu?
Chitosan adalah polisakarida linier yang merupakan produk turunan dari kitin, yaitu hasil samping dari limbah kulit kepiting, udang, dan sejenisnya. Chitosan tersusun atas β-(1-4)-terikat pada D-glucosamin (bagian deasitelisasi) dan C-acetyl-D-glucosamin (bagian asetilisasi).
Chitosan dihasilkan dari kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya dan menyisakan gugus amina bebas yang menjadikannya bersifat polikationik. Umumnya chitosan larut dalam pelarut asam organik seperti asam asetat serta memiliki kemampuan mengikat lipid dan lemak. Di dalam tubuh, chitosan ini juga berperan sebagai serat, yang sangat dibutuhkan dalam tubuh dalam membersihkan saluran pencernaan, menstimulisasi proses pencernaan, dan menyehatkan usus. Chitosan sendiri tidak mengandung kalori. Ketika diminum, chitosan melekatkan diri pada usus, dan mengikat lemak yang lewat di dalam usus sebelum diserap oleh darah dan akan dibuang melalui saluran pencernaan. Dengan kata lain, chitosan mampu mengurangi penyerapan lemak, selain itu olahan chitosan juga dapat dikembangkan untuk biomedis, chitosan digunakan pada pembalut luka untuk pembekuan darah yang memiliki sifat antibakteri dan mikroba. Maka tidak mengherankan jika sekarang banyak produk chitosan yang digunakan untuk kesehatan (Hardjito.2009)
Karena chitosan terbuat dari ekstrak kulit udang atau sejenisnya dan memiliki kemampuan sebagai suplemen pembakar lemak (fat burner).Sehngga sangat baik untuk dikonsumsi setelah makan agar pengkonsumsi chitosan ini terhindar dari obesitas disebabkan banyaknya tumpukan lemak. Selain itu, bubuk chitosan juga mempunyai kemmapuan koagulasi, misalnya apabila apabila bubuk tersebut dimasukan kedalam gelas berisi air dan minyak sawit, maka minyak tersebut akan terkoagulasi menjadi gumpalan-gumpalan. Disamping kemampuan tersebut, chitosan berfungsi sebagai antimikroba.
Dari keunggulan-keunggulan chitosan tersebut maka perkembangan dari produk olahan chitosan perlu untuk terus dilakukann, sehingga menjadi produk yang lebih mudah digunakan dan memiliki manfaat yang lebih bagi manusia, khususnya dalam bidang kesehatan, misalnya sebagai bahan suplemen bagi manusia, karena bahan suplemen makanan saat ini banyak yang membahayakan bagi tubuh manusia karena zat kimia yang terkandung dalam obat-obatan suplemen tersebut terus akan terendap dalam tubuh manusia sehingga akan berdampak pada kestabilan fungsi organ tubuh yang terganggu dan berimplikasi pada lemahnya daya tahan tubuh karena kondisi ketidakseimbangan tersebut.
Sebagai negara yang memiliki kemampuan untuk memenuhi bahan baku chitosan. sudah saatnya Indonesia terus mengembangkan produk olahan chitosan sehingga akan bermanfaat bagi kesehatan khususnya kesehatan masyarakat Indonesia dan akan menghindari penggunaan suplemen yang memiliki kandungan zat kimia yang tinggi.
Hal ini yang mendorong Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan C.V. Dinar untuk terus meneliti kandungan chitosan dan memproduksi dalam skala yang besar untuk berbagai keperluan seperti penganti bahan baku plastik, maupun menjadi bahan pengawet seperti halnya formalin yang penggunaannya sangat berbahaya bagi kesehatan, untuk itu digunakanlah chitosan.
Berbagai bahan obat dan suplemen (nutraceutical) yang sedang dikembangkan adalah antimikroba (pengawet), antipenuaan, antitumor/antikanker, antikolesterol, bahan kosmetik (tabir surya, pewarna alami). Untuk pengembangan produk tersebut IPB menjalin kerjasama dengan Virnginia Polytechnic Institute & State University, USA khususnya untuk penentuan struktur kimia bahan obat/suplemen. Kerjasama ini berlangsung dari 2003 hingga 2008,
dan mengharapkan komersialisasi chitosan sebagai pengganti formalin dan borax dapat meningkatkan kontribusi CV. Dinar dan IPB dalam meningkatkan perekonomian nelayan serta mencerdaskan putra-putri mereka. Dalam penyediaan bahan baku IPB dan CV Dinar melibatkan ratusan nelayan yang tersebar di berbagai lokasi di Indonesia.
Proses pembuatan chitosan
Proses pembuatan Chitosan meliputi beberapa tahapan, Proses utama dalam pembuatan "chitosan" meliputi penghilangan protein dan kandungan mineral melalui proses kimiawi yang disebut "deproteinasi" dan "demineralisasi" yang masing-masing dilakukan dengan menggunakan larutan basa dan asam.
Selanjutnya, chitosan diperoleh melalui proses deasetilasi dengan cara memanaskan dalam larutan basa. Karakteristik fisiko-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal dapat larut dalam larutan asam organik, tetapi tidak larut dalam pelarut organik lainnya. Pelarut chitosan yang baik adalah asam asetat. Chitosan sedikit mudah larut dalam air dan mempunyai muatan positif kuat yang dapat mengikat muatan negatif dari senyawa lain serta mudah mengalami degradasi secara biologis dan hal lainnya adalah chitosan tidak beracun.
Dalam uji-riset tentang pengawetan yang dilakukan oleh Departemen THP IPB didapat bahwa chitosan pada berbagai konsentrasi dilarutkan dalam asam asetat, kemudian ikan asin yang akan diawetkan dicelupkan beberapa saat dan ditiriskan. Beberapa indikator parameter daya awet hasil pengujian antara lain pertama pada keefektifan dalam mengurangi jumlah lalat yang hinggap, di mana pada konsentrasi chitosan 1,5 persen dapat mengurangi jumlah lalat secara signifikan.
Manfaat olahan chitosan untuk kesehatan
Manfaat dari produk olahan chitosan jika dijadikan sebuah suplemen atau bentuk obat-obatan yang lain banyak sekali, produk-produk tersebut dapat berupa kapsul ataupun bentuk yang lain yang siap untuk dikonsumsi sebagai suplemen makanan yang sehat. Selain itu chitosan tidak memiliki efek pada penumpukan zat kimia dalam ginjal, seperti halnya pengaruh obat-obatan kimiawi.
1. Menghambat Pertumbuhan Tumor.
Hasil olahan chitosan berkhasiat memperkuat kekebalan sel-sel tubuh, mengaktifkan daya hidup sel Limpa, menaikkan nilai pH cairan tubuh sehingga menciptakan lingkungan Basa, memperkuat daya serang tubuh terhadap sel kanker, meningkatkan fungsi pembunuh sel kanker. Dalam riset anti tumor, ditemukan bahwa hasil olahan chitosan mempunyai daya penekan terhadap penyebaran sel tumor, sekaligus merangsang kemampuan kekebalan tubuh, mendorong tumbuhnya sel T Limphe dari pankreas. Bahaya kanker terletak pada kemungkinan peralihannya. Chitosan juga mempunyai kemampuan menempel pada molekul-molekul sel dipermukaan bagian dalam pembuluh darah. Dengan demikian mencegah sel tumor menempel pada sel permukaan bagian.
2. Memperkuat Fungsi Hati
Hasil olahan chitosan juga dapat menekan penyerapan kolesterol oleh usus kecil sehingga menurunkan tingkat kekentalan kolesterol dalam darah, pada gilirannya mencegah penumpukan kolesterol jahat pada hati. Biasanya kalau sudah terasa tidak enak pada bagian hati, saat itu hati sudah mengalami kerusakan parah. Chitosan dapat berperan dalam menekan meningkatnya kandungan kolesterol dalam darah, mencegah penumpukan lemak hati.dalam pembuluh darah, berarti mencegah perembesan jaringan kanker ke daerah sekitar.
3. Mencegah Penyakit Kencing Manis
Faktor utama yang memicu terjadinya penyakit kencing manis adalah kurangnya jumlah sekresi absolut maupun sekresi relatif insulin dari pankreas sehingga menimbulkan kekacauan. Ketika tubuh dalam kondisi Basa, maka meningkat pula laju pemanfaatan insulin. Keadaan ini sekaligus akan mengatur kondisi keasaman cairan tubuh yang ditimbulkan oleh produksi asam organik berlebih karena terurainya lemak di dalam tubuh.
Chitosan berdaya rekat tinggi, sehingga jumlahnya akan memadai di dalam saluran usus. Keadaan ini dapat mengurangi penyerapan usus terhadap glukosa yang ada di dalam makanan, jadi mengurangi atau menunda terjadinya nilai puncak glukosa darah, sehingga tercapai efek pencegahan penyakit kencing manis.
4. Menurunkan Tekanan Darah
Chitosan dapat mengurangi penyerapan tubuh terhadap ion-ion khlor, di bawah pengaruh asam lambung akan terjadi muatan positif dari gen-gen ion positif yang bergabung dengan ion-ion khlor, mengurangi kekentalan ion khlor di dalam gula darah, meningkatkan fungsi pembesaran pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan tekanan darah.
Manfaat Chitosan yang lain :
1. Zat kerak (Crust) mengaktifkan sel-sel tubuh agar berfungsi menambah daya kekebalan,
2. Memperlambat penuaan,
3. Mengharmoniskan organ tubuh,
4. Memelihara hati dan mengurai racun.
Kandungan chitosan terhadap tubuh
1. Memperkuat kekebalan sel tubuh / menambah daya kekebalan.
2. Mengaktifkan daya hidup sel limpa.
3. Menaikkan nilai PH cairan tubuh, sehingga menciptakan lingkungan basa.
4. Mengharmoniskan organ-organ tubuh.
5. Mengurangi / memusnahkan racun.
6. Mencegah cedera akibat radiasi (penyaring sinar ultraviolet).
Terhadap kanker atau tumor
1. Memperkuat daya sel tubuh terhadap sel kanker.
2. Meningkatkan fungsi pembunuh sel kanker.
3. Berdaya menekan penyebaran sel kankerl tumor.
Terhadap Darah
1. Menurunkan Hipertensi dan menekan penyerapan kolesterol tinggi.
2. Menstabilkan tekanan darah.
Terhaadap Hati
1. Memperkuat fungsi & memelihara hati.
2. Mencegah penumpukan.
Terhadap Diabetes
Memiliki daya rekat tinggi yang dapat mengurangi penyerapan usus terhadap glukosa dalam makanan dan mengurangi terjadinya nilai puncak darah, yang akhirnya dapat mencegah terjadinya kencing manis (Susilo.2008).
Manfaat Chitosan dalam bahan pengawet makanan
Manfaat dari olahan chitosan banyak sekali misal hasil olahan chitosan untuk membuat bahan pengganti minyak bumi untuk membuat plastik, hal ini lebih ramah lingkungan karena plastik yang terbuat dari chitosan dapat terurai kembali dalam waktu yang relatif singkat jika dibandingkan dengan plastik dari minyak bumi sehingga tidak akan membuat pencemaran terhadap lingkungan.Manfaat Yang lain dari olahan chitosan untuk bahan pangan yang sehat adalah sebagai pengganti formalin yang sangat berbahaya jika digunakan sebagai pengawet makanan, dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh IPB dengan menggunakan ikan asin sebagai objek pengawetan didapat bahwa Pada penelitian tahun 1 (pertama) diperoleh hasil sebagai berikut : hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi limbah kulit udang dihasilkan chitosan dengan rendemen sebesar 15% bahan edible coating. Karkateristik chitosan sesuai dengan standar Protan Laboratories. Formulasi terbaik untuk pembuatan edible coating dengan chitosan 1,5%. Dari hasil organoleptik mutu hedomik, perlakuan chitosan nilai 6,6 perlakuan formalin 5,8 dan kontrol 4,9. Analisis uji organoleptik dilakukan dengan uji statistik Kruskal-Wallis dan uji lanjut multiple comparison diperoleh hasil perlakuan chitosan lebih baik dibanding dengan kontrol dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan formalin, tetapi dari penampakan perlakuan chitosan lebih baik dibanding perlakuan formalin. Pada uji mutu hedonik penampakan diperoleh bahwa perlakuan dengan pelapisan chitosan sampai minggu ke-8 memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol. Standar nilai organoleptik SNI-Ikan asin 6,5. Nilai 6,8 pada perlakuan kontrol pada minggu ke-2. Nilai 6,7 pada perlakuan formalin pada minggu ke-4 dan nilai 6,8 pada perlakuan chitosan pada minggu ke-4. Pada uji mutu hedonik rasa perlakuan pelapisan chitosan tidak berbeda nyata dengan perlakuan formalin dan kontrol sampai pada penyimpanan minggu ke-8. Pada minggu ke-4 semua perlakuan nilai 6,4. Pada uji mutu hedonik bau perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang terbaik pada minggu ke-8 dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata pada minggu ke 2, 4 dan 6. Nilai 6,4 dan 6,1 perlakuan chitosan dan formalin pada minggu ke-4. Sedangkan 6,7 pada minggu ke-2 pada perlakuan kontrol. Pada uji mutu hedonik konsistensi perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan kontrol tetapi tidak berbeda nyata dengan formalin pada minggu ke-4 dan minggu ke-8. Pada minggu ke-8 perlakuan chitosan dan formalin nilai 6,4 dan 6,7. Sedangkan kontrol pada minggu ke-2 nilai 6,9. Pada uji Total Plat Count (TPC) bakteri, perlakuan pelapisan chitosan memberikan hasil yang lebih baik dalam menekan pertumbuhan bakteri selama penyimpanan (sampai minggu ke-8) dibanding formalin dan kontrol. Nilai masih sesuai standar SNI 1 x 105. Pada uji E.coli semua perlakuan memberikan hasil yang negatif. Pada uji kapang, perlakuan dengan pelapisan chitosan dan formalin mulai tampak ada jamur pada minggu ke-9, sedangkan pada kontrol pada minggu ke-4. Pada uji TVB, perlakuan pelapisan chitosan nilainya lebih rendah dibanding kontrol selama penyimpanan, tetapi lebih tinggi dibanding dengan perlakuan formalin. Sedangkan pada uji TBA, perlakuan chitosan mampu menekan oksidasi lemak dibanding kontrol tetapi nilai TBAnya masih diatas perlakuan formalin. Secara umum nilai TBA masih baik kurang dari 3 mg, malonaldehid/kg sample. Pada uji nilai aktvitias ari (aw), perlakuan chitosan mampu menurunkan nilai aw dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan formalin dan kontrol. Pada uji lanjut BNJ proksimat. Kadar air perlakuan formalin lebih tinggi dibanding dengan perlakuan pelapisanchitosan dan kontrol, tetapi pelapisan chitosan kadar airnya lebih tinggi dibanding dengan kontrol, tetapi 3 perlakuan nilainya masih diatas standar (kadar air 40%). Pada uji protein, perlakuan chitosan berbeda nyata dibanding dengan kontrol. Kandungan protein lebih tinggi dibanding dengan kontrol. Kandungan protein berkisar 34,61-37,64%. Pada uji kadar lemak, perlakuan formalin kandungan lemaknya tidak berbeda nyata dibanding perlakuan chitosan dan kontrol. Pada uji kadar abu perlakuan kitosan lebih tinggi dibanding dengan perlakuan formalin dan kontrol. Nilai berkisar 16,7-18,9. Daya awet ikan asin cucut dengan pemberian perlakuan chitosan selama 3 bulan dan formalin 3 bulan 2 minggu dan kontrol selama 2 bulan. Pada penelitian tahun ke 2 (dua) diperoleh hasil sebagai berikut : rendemen chitosan10% dari bahan baku rajungan. Proses ekstrasi diperoleh hasil yang optimal dengan HCI 2N. Rajungan yang diperoleh memperoleh spesifikasi sebagai berikut : kadar air 7,54%, kadar abu 0,75% derajat deasitilasi 75,42% dan kandungan Pb, Cu dan Zn tidak terdeteksi. Pada uji E.coli menunjukkan hasil negatif. Pada pembuatan edible coating (pengawet alami) formulasi terbaik dengan konsentrasi chitosan rajungan 1,5%. Pada uji nilai mutu hedonik kapang perlakuan kitosan 1,5% dan formalin 2% baru tampak adanya jamur pada minggu ke-10 dengan nilai hedonik 5,53 dan 6,87. Sedangkan pada kontrol pada minggu ke-4 sudah tampak adanya jamur, dengan nilai hedonik 6,33. Berdasarkan uji statistik pada uji aw tidak ada perbedaan yang nyata pada semua perlakuan. Selama penyimpanan cenderung mengalami kenaikan. Uji TPC pada perlakuan kontrol nilai TPC tidak sesuai SNI-Ikan asin pada minggu ke-10 yaitu 6,4 x 105. Sedangkan pada perlakuan chitosan dan formalin nilai TPC masih sesuai dengan SNI sampai pada minggu ke-12 yaitu dengan nilai 6,6 x 104 dan 7,4 x 104. Pada uji mutu hedonik organoleptik yang meliputi penampakkan, bau, rasa dan konsistensi diperoleh hasil sesuai dengan SNI-Ikan Asin 01-2721-1992 sampai pada penyimpanan minggu ke-12. Pada uji hedonik penampakkan berdasarkan uji multiple comparison perlakuan kitosan rajungan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada uji mutu hedonik bau berdasarkan uji analisis ragam tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan pada uji mutu hedonik rasa berdasarkan uji statistik tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Pada uji proksimat untuk kadar air berdasarkan uji statistik berbeda nyata dengan 2 perlakuan lainnya dan kadar airnya selama penyimpanan lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya dengan nilai pada penyimpanan ke-12 yaitu 39,21%. Pada uji kadar abu berdasarkan uji statistik tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan nilai pada semua perlakuan berkisar antara 14,73-15,1%. Pada uji kadar protein berdasarkan uji statistik memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan kandungan protein yang paling besar pada perlakuan chitosan dengan kisaran antara 23,21 - 37,15%. Pada uji kadar lemak berdasarkan uji statistik memberikan pengaruh yang berbeda nyata diantara perlakuan yang ada dengan kandungan yang paling rendah pada perlakuan kitosan dengan kisaran antara 0,43-0,99% selama penyimpanan (Suseno. 2006).
Kesimpulan
Manfaat hasil olahan chitosan sebenarnya masih banyak sekali dalam bidang yang lain. sehingga perlu adanya pengembangan lebih lanjut terhadap produk ini, sehingga akan tercipta produk bermanfaat untuk kesehatan dan dalam hal lainnya. Sebagai negara yang memiliki sumber bahan baku yang besar dalam memproduksi chitosan maka Indonesia harus terus mengembangkan produk ini, agar apa yang menjadi tujuan bersama yakni terwujudnya kemandirian pangan dan menjadi negeri yang sehat aakan tewujud tanpa mengandalkan produk-produk luar negeri.
Daftar Pustaka
(Anonim).2009. Chitosan new biotechnology sanitizer. Food Review, Edisi Agustus NO 4.PT.Media Pangan Indonesia; Bogor.
(Anonim).2010. Chitosan limbah kaya manfaat. Emulsi. Edisi Januari-Februari.Emulsimagzine; Bogor
(Anonim).2006. [Terhubung Berkala]. Chitosan Tingkatkan Mutu Agar-Agar Kertas Asal Garut. http://www.ipb.ac.id/id/?b=27. (13 Mei 2010).
(Anonim).2006.[Terhubunng Berkala].IPB Kerjasama CV. Dinar, Produksi Chitosan Pengganti Formalin.2006.http://www.ipb.ac.id/id/?b=12
(Anonim).2006.[Terhubung Berkala]. Disinyalir Penggunaan Formalin pada Makanan Kembali Marak.2006.http://www.ipb.ac.id/?b=48bstrak
Rismayadi, Y.2003.[TerhubungBerkal]. Teknologi Stabilisasi Dimensi Kayu Dengan Senyawa Khitosan Dari Limbah Cangkang Udang. http://lppm.ipb.ac.id/lppmipb/penelitian/caripenelitian.php?status=cari.(13 Mei 2010).
Suseno Heri,S.2006. [Terhubung Berkala]. Pembuatan Edible Coating dari Limbah Invertebrata Laut dan Pemanfaatannya sebagai bahan Pengawet Alami dalam Pengolahan Ikan Asin di Eretan, Indramayu. http://lppm.ipb.ac.id/lppmipb/penelitian/hasilcari.php?status=buka&id_haslit=HB/011.06/SUS/p . (13 Mei 2010)
Susilo, B.2008.[Terhubung Berkala].Suplemen Makanan Berkualitas Tinggi Mengatasi Penyakit Kencing Manis. http://jakartacity.olx.co.id/chitosan-capsules-chitin-capsules-tianshi-iid-17975022 (13 Mei 2010).
Ferdiansyah, Venol.2005. [Terubung Berkala]. Pemanfaatan kitosan cangkang udang sebagai matriks penyangga pada imobilisasi enzim protease.http://e-material.perpustakaan.ipb.ac.id/skripsi/2005/C/C05vfe.pdf . ( 13 Mei 2010).
Hardjito, L.209. [Terhubung Berkala]. Apakah Chitosan Itu ?.
http://chitosancarragenan.com/in/produk/bahandasar. (13 Mei 2010).
Selasa, 11 Mei 2010
TEKNOLOGI HIDROPONIK DENGAN MEDIA KERTAS UNTUK BUDIDAYA PERTANIAN KOTA
TEKNOLOGI HIDROPONIK DENGAN MEDIA KERTAS
UNTUK BUDIDAYA PERTANIAN KOTA
MUHAMMAD NAFIS RAHMAN (F14090119)
MAHASISWA TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA
Bogor Agricultural University. http://www.ipb.ac.id
Pada era perkembangan jaman yang sangat modern ini, perlu adanya peran dari berbagai elemen untuk bersama-sama memikirkan pentingnya pertanian yang terintegrasi.Saat ini dunia pertanian masih memperihatinkan, karena banyak yang beranggapan bahwa hasil dari usaha pertanian masih sangat kecil sehinnga mereka enggan untuk berkecimpungan di bidang ini.Hal tersebut yang menyebabkan kurang dapat berkembangnya pertanian di Indonesia.Padahal jika di lihat dari berbagai sudut pandang baik dari geografis ataupun astronomis negara Indonesia sangat ideal dalam bidang pertanian, pertanian sangat berperan penting dalam pemenuhan pangan, hal itu merupakan landasan yang penting dalam suatu bangsa.Sebagai negara yang memiliki banyak sekali potensi dalam bidang pertanian seharusnya Indonesia menjadi negara yang benar-benar memprhatikan aspek ini, tetapi dalam kenyataannya Indonesia masih setengah-setengah dalam mengembangkan pertanian.Padahal Indonesia saat ini sangat kesulitan sekali dalam memenuhi pangan nasional.
Sebagai negara yang memiliki iklim tropis dan juga berada dalam kondisi yang strategis dalam membangun dunia pertanian maka perlu perhatian lebih dari berbagai pihak untuk kembali memikirkan dunia pertanian Indonesia yang kini kian terbengkalai.Padahal potensi-potensi yang dimiliki sungguh sangat besar tetapi rakyat Indonesia cenderung berfikiran negatif terhadap pertanian. Saat ini pertanian di Indonesia dipandang sebagai sebuah pekerjaan yang kurang memiliki nilai ekonomis tinggi dan kendala yang lain adalah konversi yang terjadi secara besar-besaran yang telah terjadi di Indonesia,sehingga areal pertanian semakin menyempit dan berubah menjadi perumahan-perumahan dan berbagai bentuk yang lain yang memang tidak dapat dihindari karena pertambahan penduduk di Indonesia yang demikian pesat sehingga perlu adanya tindak lanjut untuk kembali mengembalikan citra pertanian Indonesia dan memberikan solusi yang tepat sebagai jalan tengah dengan adanya konversi lahan tersebut.
Perkembangan teknologi di bidang pertanian demikian pesat, sehingga mereka yang tertinggal dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tidak akan memperoleh keuntungan yang maksimal dari kegiatan usaha yang dilakukannya. Salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian yang layak disebarluaskan adalah teknologi hidroponik. Hal ini disebabkan oleh semakin langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan sektor industri dan jasa, sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional semakin tidak kompetitif karena tingginya harga lahan. Teknologi budidaya pertanian sistem hidroponik memberikan alternatif bagi para petani yang memiliki lahan sempit atau yang hanya memiliki pekarangan rumah untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang memadai.
Hidroponik merupakan langkah yang paling efisien untuk mengatasi permasalahan yang cukup pelik tersebut.Dengan sistem hidroponik maka berbagai bentuk pertanian yang tadinya tidak dapat dilakukan dapat dilakukan oleh masyarakat perkotaan dan dengan sistem ini maka tidak ada yang akan membatasi masyarakat perkotaan yang tidak memiliki lahan yang cukup untuk budidaya pertanian dapat tetap mengembangkannya.
Bertanam secara Hidroponik telah dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu. Namun, kepopulerannya baru berlangsung sejak tahun 1936, saat Dr. W.F. Gericke Berhasil menumbuhkan tanaman tomat dalam kolam berisi air dan nutrient di laboratoriumnya. Beliau menamakan cara ini dengan aquaculture, akan tetapi, karena istilah ini telah dipakai untuk menumbuhkan tanaman dan binatang air maka diganti namanya menjadi hydroponics dalam bahasa Indonesia hidroponik yang artinya proses penanaman dengan media air dan tanpa media tanah (Indriyani Hety,1995).
Dalam pengusahaan hidroponik perlu diperhatikan beberapa hal berikut.
1.Persiapan umum tanaman hidroponik.
Seperti cara budidaya tanaman yang lain teknik penanaman hidroponik juga membutuhkan beberapa persiapan. Persiapan tersebut meliputi pemilihan lokasi, greenhouse (jika memungkinkan), media, pot, dan sarana irigasi serta nutrient.
A.Pemilihan lokasi
Pemilihan lokasi untuk tempat budidaya sangat penting. Terutama bagi masyarakat perkotaan atau mereka yang ingin berbisnis dengan tanaman hidroponik.Dengan menentukan lokasi yang tepat diharapkan dapat menekan biaya dan lokasi yang dibutuhkan.
Banyak pilihan yang ada,tetapi jika budidaya ini dikhususkan untuk masyarakat perkotaan maka untuk memilihnya diperlukan suatu kriteria tertentu.Kriteria tersebut antara lain:
1.Sesuai dengan syarat tumbuh tanaman.
2.Dekat dengan pusat sarana atau kebutuhan produksi.
3.Sarana untuk perawatan yang mudah dijangkau.
4.Dapat terkena sinar matahari langsung.
Kriteria tersebut tidak mutlak harus ada atau terpenuhi, tetapi yang lebih perlu seoptimal mungkin sehingga hasil yang didapat cukup maksimal.
B. Greenhouse
Budidaya tanaman dengan sistem hidroponik pada umumnya dilakukan didalam greenhouse. Istilah yang sering digunakan untuk terjemahan kata ini adalah rumah kaca. Tetapi hal ini tidak lagi sesuai karena sebagian besar greenhouse dibangun tidak lagi menggunakan kaca, tetapi menggunakan plastik untuk penutupnya (Suhardiyanto, 2009).
Greenhouse (rumah kaca) mulanya ada di Belanda. Di negara tersebut greenhouse sangat penting karena negara tersebut memiliki empat musim yang cukup ekstrim,maka untuk menumbuhkan tanaman yang optimal musim tersebut harus dapat disesuaikan dengan syarat tumbuh tanaman, maka perlu dibuat greenhouse, tetapi jika di Indonesia tidak mutlak harus ada, adanya greenhouse ini hanya untuk lebih memudahkan dalam perawatan dan menghindari berbagai penyakit tanaman, tetapi jika tidak memiliki lahan maka greenhouse tidak harus ada. Yang tepenting adalah bagaimana kita merawat tanaman hidroponik (Prihmantoro, 1994).
C. Media
Media untuk tanaman hidroponik bermacam-macam. Persyaratan terpenting untuk media tumbuh harus ringan dan porus (memiliki banyak pori).Tiap media mempunyai bobot dan porositas yang berbeda. Oleh karena itu, dalam memilih media sebaiknya dicari yang paling ringan dan yang mepunyai porositas baik. Selain itu media tersebut mudah didapat untuk digunakan.
Macam-macam media yang dapat digunakan yaitu arang sekam, pasir, zeolit, kertas, rockwoll, gambut (peat moss), dan sabut kelapa.
Dalam hidroponik saat ini akan menggunakan media kertas bekas yang saat ini justru menjadi sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis sama sekali. Sehingga jika digunakan sebagai media tumbuh untuk membuat tanaman hidroponik akan memiliki nilai kegunaan yang lebih besar, dalam pemilihan kertas sebagai media tumbuh maka perlu memperhatikan hal-hal yang mendasar berikut.
I. Jenis kertas
Jenis kertas yang digunakan dalam sistem ini adalah kertas yang murni tidak ada campuran dengan plastik ataupun dengan zat yang berbahaya bagi pertumbuhan tanaman. Sehingga sanagat penting untuk memilih jenis kertas yang digunakan, kertas yang baik digunakan justru kertas yang sudah lapuk karena proses penghancuran dan daya serapnya yang tinggi.
II.Proses pembuatan media tumbuh kertas.
Proses dalam membuat media tumbuh kertas harus memperhatikan kebersihan dari kertas tersebut apakah kertas tersebut memiliki banyak kandungan seperti tinta misalnya,jika hal ini terjadi maka perlu penanganan yang lebih intensif untuk menghilangkan tinta tersebut sehingga tidak menjadi zat yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut. Cara yang dapat membuang tinta adalah dengan cara menghancurkan kertas tersebut dengan penghalus lalu halusan yang telah menjadi bubur tersebut disaring untuk dipisahkan dengan tintanya, tentunya dalam penghalusan mengggunakan campuran air untuk membantu proses penghalusan dan pemisah tinta dengan kertas tesebut.
Setelah kertas cukup bersih maka kertas perlu untuk direbus atau dipanaskan, fungsi dari perebusan atau pemanasan tersebut adalah untuk sterilisasi kertas tersebut dari berbagai jenis mikroba yang mungkin akan mengganggu pertumbuhan bakteri tersebut. Setelah itu kertas ditiriskan.
D.Penyiapan tempat media tumbuh (pot).
Sebagai tanaman hidroponik tentu perlu adanya perawatan yang intensif untuk pembudidayaan sehingga hasil dari tanaman tersebut akan maksimal, yang berkaitan dengan hal ini adalah tempat media tumbuh (pot) yang akan menjadi lahan bagi tanaman untuk tumbuh maka dengan memperhatikan beberapa hal berikut, maka akan dapat membuat pot yang baik,
1.Bahan untuk membuat pot sebaiknya menggunakan bahan yang terbuat dari plastik karena dengan bahan ini efisiensi penggunaanya akan didapat,misalnya tidak memerlukan dana yang besar, tidak berkarat, mudah di modifikasi sesuai keinginan, tidak cepat lapuk dan lain sebagainya.
2.Membuat saluran air. Dalam hidroponik unsur yang paling berperan adalah air sebagai pelarut dari zat-zat yang akan membantu pertumbuhan dari tanaman yang akan di kembangkan
E. Sarana Irigasi
Irigasi atau pengairan sangat penting dalam pertumbuhan tanaman. Apalagi dalam sistem hidroponik irigasi yang teraktur atau sangat dibutuhkan, selain melihat dari media yang akan digunakan adalah kertas,karena media ini bersifat cepat kering dan mengeras maka sistem irigasi yang baik perlu di perhatikan. Secara garis besar , irigasi dalam sistem hidroponik dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sistem air mengenang dan sistem air mengalir.
1. Sistem Air Menggenang
Dalam sistem irigasi ini air/larutan yang diberikan terapung dalam wadah/pot sehingga tergenang. Hal yang dimaksud adalah untuk menghindari terendamnya akar sehingga tidak terjadi pembusukkan akar. Dengan sistem ini ada kemungkinan zat hara akan mengendap di bawah pot sehingga konsentrasi air berubah. Oleh karenanya , bila telah tejadi perubahan konsentrasi (dari hasil pengukuran ),wadah/pot harus dicuci.
2. Sistem air mengalir
Sistem air mengalir mempunya prinsip air/larutan dialirkan terus sehingga tidak ada yang menggenang. Sistem ini mempunya kelebihan yaitu zat hara yang tercampur dalam air tidak mengendap sehingga akar tetapn menyerap dalam konsentrasi yang sama dan sesuai.Dan untuk media kertas tekni sistem irigasi ini yang cocok untuk diterapkan karena karakteristik kertas yang hampir sama dengan tanah. Tetapi yang terpenting dalam menuangkan air tersebut dalam pot tidak telalu berlebihan.
Gambar Sistem irigasi air mengalir.
Dalam gambar ini terlihat bahwa air akan selalu mengalir di bawah akar sehingga penggunaan air akan optimal.
F.Penambahan nutrisi tanaman Hidroponik
Dalam budidaya tanaman hidroponik tentunya membutuhkan nutrisi yang cukup agar pertumbuhan tanaman dapat optimal.Unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman bermacam-macam dan memiliki berbgai fungsi yang berbeda pula. Fungsi tersebut adalah sebagai berikut.
1.Nitrogen : memacu pertumbuhan daun dan batang serta membantu pembentukan akar. Oleh karenanya, unsur ini baik untuk tanaman sayuran.
2.Fosfor : membantu pembentukan bunga dan buah serta mendorong pertumbuhan akar muda.
3.Kalium: membantu pembentukan bunga dan buah serta menguatkan tanaman.
4.Kalsium : membantu pertumbuhan ujung-ujung akar dan pembentukan bulu akar.
5.Magnesium : ikut dalam pembentukan zat hijau daun dan menyebarkan unsur fosfor ke seluruh tanaman.
6.Sulfur (belerang): bersama unsur dapat mempertinggi kerja unsur lain dan memproduksi energi.
7.Ferum: ikut dalam pembentukan zat hijau daun dan menghasilkan klorofil serta membantu pembentukan enzim pernapasan.
8.Mangan: ikut dalam pembentukan zat hijau daun dan membantu penyerapan nitrogen.
9.Borium: membantu pertumbuhan meristem.
10.seng (Zn) : ikut dalam pembentukan auksin (hormon tumbuh).
11.Molibdenum: berperan dalam mengikat Nitrogen sehingga penting untuk sayur-sayuran (Lingga.1986).
Nutrient dalam hidroponik dapat diperoleh dengan meramu sendiri atau membelinya dalam bentuk jadi. Nutrien hasil hasil ramuan sendiri biasanya digunakan oleh orang yang menjadikan hidroponik sebagai suatu usaha.
Pemberian nutrisi ini dapat mengikuti prosedur berikut.
Tabel 1. Pemberian pupuk dalam masa pertumbuhan
No Jenis
Pupuk Masa Pertumbuhan
(g/100 l) Masa Pembuahan
(g/100 tanaman)
1. KNO3 25 25
2. TSP 25 20
3. Ca(NO3)2 25 25
4. MgSO4 20 30
5. NPK 25 30
6. H3BSO4 14 14
7. FeSO4 10 14
8. MnSO4 10 10
9. ZnSO4 2 2
10. CuSO4 0,4 0,4
11. ZA - 10
G.Pemilihan tanaman untuk dibudidayakan dengan hidroponik.
Batasan tanaman yang dapat dihidroponikan kurang jelas karena sampai sekarang jenis tanaman yang dapat dihidroponikan terus bertambah.Memang sampai saat ini belum semua tanaman dapat dihidroponikan , tatapi ada kemungkinan semuanya dapat dihidroponikkan. Kunci dari dapat atau tidaknya tanaman dapat dihidroponikkan tergantung dari nutrien yang diberikan.
Jenis tanaman yang telah banyak dihidroponikkan dari golongan tanaman hias antara lain philodendron sp., draceana sp., aglonema sp., dan spatylum sp. Dari jenis sayuran yang dapat dihiroponikkan antara lain paprika, tomat, mentimun, salada, sawi, kangkung, dan bayam. Adapun jenis tanaman buah yang dapat dihiroponikkan anatara lain melon,jambu air, kedondong bangkok, dan belimbing.
Tetapi melihat media yang akan digunakan adalah bubur kertas maka dianjurkan tanamaan tersebut memiliki akar serabut yang banyak dan memiliki karakteristik akar yang kuat.
II.Cara Penanaman.
Cara bertanam sistem hidroponik ini seperti halnya pada proses penanaman tanaman biasa,karena media yang digunakan cukup mudah untuk di gunakan.Tetapi yang perlu diperhatikan adalah proses pembuatan media dan pemberian nutrisi dalam media sehingga pertumbuhan tanaman akan optimal.
Gambar Tanaman dalam media Hiroponik.
III.Hama dan Penyakit
Pengendalian dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan pestisida.
IV.Pemanenan
Yang tepenting dalam hal pemanenan adalah jenis tanaman yang akan dipanen apakah jenis buah-buahan ataupun jenis sayuran,untuk hal ini cukup dapat sesuaikan dengan jenis tanamannya dan permintaan pasar atau keinginan dari pembudidaya.
Proses pemanenan untuk tanaman sayuran cukup mudah karena tanaman hidroponik cukup bersih dan efisien sehingga proses pencucian tanaman ini cukup mudah.
Penutup
Dalam pembudidayaan tanaman hidroponik akan memperoleh banyak sekali manfaat mulai dari sejuknya daerah disekitar tanaman, mengurangi polusi diperkotaan serta menjadi salah satu bentuk sistem pertanian modern. Hal ini mendorong banyak pihak baik para pebisnis ataupun para hobi untuk mengembangkan teknologi hidroponik ini, damapak positif yang lain adalah dapat terselesaikanya masalah sampah kertas yang sering menumpuk karena memang konsumsi kertas untuk berbagai keperluan yang meningkat. Perkembangan lebih lanjut adalah terciptanya suatu bentuk sistem pertanian yang ramah ligkungan, memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan lebih modern.
Daftar Pustaka
Lingga, P.1986.Petunjuk Penggunaan Pupuk.Penerbit Swadaya: Pondok cina Jakarta
Suhardiyanto, H.2009.TeKnologi Rumah Tanaman untuk Iklim Tropika
Basah: Pemodelan dan Pengendalian Lingkungan. IPB Press, Bogor.
Prihmantoro, H.,Hetty Indriani,Y.1994.Hidroponik Sayuran Semusim Untuk Bisnis dan Hobi. Penerbit Swadaya: Jakarta.
UNTUK BUDIDAYA PERTANIAN KOTA
MUHAMMAD NAFIS RAHMAN (F14090119)
MAHASISWA TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA
Bogor Agricultural University. http://www.ipb.ac.id
Pada era perkembangan jaman yang sangat modern ini, perlu adanya peran dari berbagai elemen untuk bersama-sama memikirkan pentingnya pertanian yang terintegrasi.Saat ini dunia pertanian masih memperihatinkan, karena banyak yang beranggapan bahwa hasil dari usaha pertanian masih sangat kecil sehinnga mereka enggan untuk berkecimpungan di bidang ini.Hal tersebut yang menyebabkan kurang dapat berkembangnya pertanian di Indonesia.Padahal jika di lihat dari berbagai sudut pandang baik dari geografis ataupun astronomis negara Indonesia sangat ideal dalam bidang pertanian, pertanian sangat berperan penting dalam pemenuhan pangan, hal itu merupakan landasan yang penting dalam suatu bangsa.Sebagai negara yang memiliki banyak sekali potensi dalam bidang pertanian seharusnya Indonesia menjadi negara yang benar-benar memprhatikan aspek ini, tetapi dalam kenyataannya Indonesia masih setengah-setengah dalam mengembangkan pertanian.Padahal Indonesia saat ini sangat kesulitan sekali dalam memenuhi pangan nasional.
Sebagai negara yang memiliki iklim tropis dan juga berada dalam kondisi yang strategis dalam membangun dunia pertanian maka perlu perhatian lebih dari berbagai pihak untuk kembali memikirkan dunia pertanian Indonesia yang kini kian terbengkalai.Padahal potensi-potensi yang dimiliki sungguh sangat besar tetapi rakyat Indonesia cenderung berfikiran negatif terhadap pertanian. Saat ini pertanian di Indonesia dipandang sebagai sebuah pekerjaan yang kurang memiliki nilai ekonomis tinggi dan kendala yang lain adalah konversi yang terjadi secara besar-besaran yang telah terjadi di Indonesia,sehingga areal pertanian semakin menyempit dan berubah menjadi perumahan-perumahan dan berbagai bentuk yang lain yang memang tidak dapat dihindari karena pertambahan penduduk di Indonesia yang demikian pesat sehingga perlu adanya tindak lanjut untuk kembali mengembalikan citra pertanian Indonesia dan memberikan solusi yang tepat sebagai jalan tengah dengan adanya konversi lahan tersebut.
Perkembangan teknologi di bidang pertanian demikian pesat, sehingga mereka yang tertinggal dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tidak akan memperoleh keuntungan yang maksimal dari kegiatan usaha yang dilakukannya. Salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian yang layak disebarluaskan adalah teknologi hidroponik. Hal ini disebabkan oleh semakin langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan sektor industri dan jasa, sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional semakin tidak kompetitif karena tingginya harga lahan. Teknologi budidaya pertanian sistem hidroponik memberikan alternatif bagi para petani yang memiliki lahan sempit atau yang hanya memiliki pekarangan rumah untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang memadai.
Hidroponik merupakan langkah yang paling efisien untuk mengatasi permasalahan yang cukup pelik tersebut.Dengan sistem hidroponik maka berbagai bentuk pertanian yang tadinya tidak dapat dilakukan dapat dilakukan oleh masyarakat perkotaan dan dengan sistem ini maka tidak ada yang akan membatasi masyarakat perkotaan yang tidak memiliki lahan yang cukup untuk budidaya pertanian dapat tetap mengembangkannya.
Bertanam secara Hidroponik telah dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu. Namun, kepopulerannya baru berlangsung sejak tahun 1936, saat Dr. W.F. Gericke Berhasil menumbuhkan tanaman tomat dalam kolam berisi air dan nutrient di laboratoriumnya. Beliau menamakan cara ini dengan aquaculture, akan tetapi, karena istilah ini telah dipakai untuk menumbuhkan tanaman dan binatang air maka diganti namanya menjadi hydroponics dalam bahasa Indonesia hidroponik yang artinya proses penanaman dengan media air dan tanpa media tanah (Indriyani Hety,1995).
Dalam pengusahaan hidroponik perlu diperhatikan beberapa hal berikut.
1.Persiapan umum tanaman hidroponik.
Seperti cara budidaya tanaman yang lain teknik penanaman hidroponik juga membutuhkan beberapa persiapan. Persiapan tersebut meliputi pemilihan lokasi, greenhouse (jika memungkinkan), media, pot, dan sarana irigasi serta nutrient.
A.Pemilihan lokasi
Pemilihan lokasi untuk tempat budidaya sangat penting. Terutama bagi masyarakat perkotaan atau mereka yang ingin berbisnis dengan tanaman hidroponik.Dengan menentukan lokasi yang tepat diharapkan dapat menekan biaya dan lokasi yang dibutuhkan.
Banyak pilihan yang ada,tetapi jika budidaya ini dikhususkan untuk masyarakat perkotaan maka untuk memilihnya diperlukan suatu kriteria tertentu.Kriteria tersebut antara lain:
1.Sesuai dengan syarat tumbuh tanaman.
2.Dekat dengan pusat sarana atau kebutuhan produksi.
3.Sarana untuk perawatan yang mudah dijangkau.
4.Dapat terkena sinar matahari langsung.
Kriteria tersebut tidak mutlak harus ada atau terpenuhi, tetapi yang lebih perlu seoptimal mungkin sehingga hasil yang didapat cukup maksimal.
B. Greenhouse
Budidaya tanaman dengan sistem hidroponik pada umumnya dilakukan didalam greenhouse. Istilah yang sering digunakan untuk terjemahan kata ini adalah rumah kaca. Tetapi hal ini tidak lagi sesuai karena sebagian besar greenhouse dibangun tidak lagi menggunakan kaca, tetapi menggunakan plastik untuk penutupnya (Suhardiyanto, 2009).
Greenhouse (rumah kaca) mulanya ada di Belanda. Di negara tersebut greenhouse sangat penting karena negara tersebut memiliki empat musim yang cukup ekstrim,maka untuk menumbuhkan tanaman yang optimal musim tersebut harus dapat disesuaikan dengan syarat tumbuh tanaman, maka perlu dibuat greenhouse, tetapi jika di Indonesia tidak mutlak harus ada, adanya greenhouse ini hanya untuk lebih memudahkan dalam perawatan dan menghindari berbagai penyakit tanaman, tetapi jika tidak memiliki lahan maka greenhouse tidak harus ada. Yang tepenting adalah bagaimana kita merawat tanaman hidroponik (Prihmantoro, 1994).
C. Media
Media untuk tanaman hidroponik bermacam-macam. Persyaratan terpenting untuk media tumbuh harus ringan dan porus (memiliki banyak pori).Tiap media mempunyai bobot dan porositas yang berbeda. Oleh karena itu, dalam memilih media sebaiknya dicari yang paling ringan dan yang mepunyai porositas baik. Selain itu media tersebut mudah didapat untuk digunakan.
Macam-macam media yang dapat digunakan yaitu arang sekam, pasir, zeolit, kertas, rockwoll, gambut (peat moss), dan sabut kelapa.
Dalam hidroponik saat ini akan menggunakan media kertas bekas yang saat ini justru menjadi sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis sama sekali. Sehingga jika digunakan sebagai media tumbuh untuk membuat tanaman hidroponik akan memiliki nilai kegunaan yang lebih besar, dalam pemilihan kertas sebagai media tumbuh maka perlu memperhatikan hal-hal yang mendasar berikut.
I. Jenis kertas
Jenis kertas yang digunakan dalam sistem ini adalah kertas yang murni tidak ada campuran dengan plastik ataupun dengan zat yang berbahaya bagi pertumbuhan tanaman. Sehingga sanagat penting untuk memilih jenis kertas yang digunakan, kertas yang baik digunakan justru kertas yang sudah lapuk karena proses penghancuran dan daya serapnya yang tinggi.
II.Proses pembuatan media tumbuh kertas.
Proses dalam membuat media tumbuh kertas harus memperhatikan kebersihan dari kertas tersebut apakah kertas tersebut memiliki banyak kandungan seperti tinta misalnya,jika hal ini terjadi maka perlu penanganan yang lebih intensif untuk menghilangkan tinta tersebut sehingga tidak menjadi zat yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut. Cara yang dapat membuang tinta adalah dengan cara menghancurkan kertas tersebut dengan penghalus lalu halusan yang telah menjadi bubur tersebut disaring untuk dipisahkan dengan tintanya, tentunya dalam penghalusan mengggunakan campuran air untuk membantu proses penghalusan dan pemisah tinta dengan kertas tesebut.
Setelah kertas cukup bersih maka kertas perlu untuk direbus atau dipanaskan, fungsi dari perebusan atau pemanasan tersebut adalah untuk sterilisasi kertas tersebut dari berbagai jenis mikroba yang mungkin akan mengganggu pertumbuhan bakteri tersebut. Setelah itu kertas ditiriskan.
D.Penyiapan tempat media tumbuh (pot).
Sebagai tanaman hidroponik tentu perlu adanya perawatan yang intensif untuk pembudidayaan sehingga hasil dari tanaman tersebut akan maksimal, yang berkaitan dengan hal ini adalah tempat media tumbuh (pot) yang akan menjadi lahan bagi tanaman untuk tumbuh maka dengan memperhatikan beberapa hal berikut, maka akan dapat membuat pot yang baik,
1.Bahan untuk membuat pot sebaiknya menggunakan bahan yang terbuat dari plastik karena dengan bahan ini efisiensi penggunaanya akan didapat,misalnya tidak memerlukan dana yang besar, tidak berkarat, mudah di modifikasi sesuai keinginan, tidak cepat lapuk dan lain sebagainya.
2.Membuat saluran air. Dalam hidroponik unsur yang paling berperan adalah air sebagai pelarut dari zat-zat yang akan membantu pertumbuhan dari tanaman yang akan di kembangkan
E. Sarana Irigasi
Irigasi atau pengairan sangat penting dalam pertumbuhan tanaman. Apalagi dalam sistem hidroponik irigasi yang teraktur atau sangat dibutuhkan, selain melihat dari media yang akan digunakan adalah kertas,karena media ini bersifat cepat kering dan mengeras maka sistem irigasi yang baik perlu di perhatikan. Secara garis besar , irigasi dalam sistem hidroponik dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sistem air mengenang dan sistem air mengalir.
1. Sistem Air Menggenang
Dalam sistem irigasi ini air/larutan yang diberikan terapung dalam wadah/pot sehingga tergenang. Hal yang dimaksud adalah untuk menghindari terendamnya akar sehingga tidak terjadi pembusukkan akar. Dengan sistem ini ada kemungkinan zat hara akan mengendap di bawah pot sehingga konsentrasi air berubah. Oleh karenanya , bila telah tejadi perubahan konsentrasi (dari hasil pengukuran ),wadah/pot harus dicuci.
2. Sistem air mengalir
Sistem air mengalir mempunya prinsip air/larutan dialirkan terus sehingga tidak ada yang menggenang. Sistem ini mempunya kelebihan yaitu zat hara yang tercampur dalam air tidak mengendap sehingga akar tetapn menyerap dalam konsentrasi yang sama dan sesuai.Dan untuk media kertas tekni sistem irigasi ini yang cocok untuk diterapkan karena karakteristik kertas yang hampir sama dengan tanah. Tetapi yang terpenting dalam menuangkan air tersebut dalam pot tidak telalu berlebihan.
Gambar Sistem irigasi air mengalir.
Dalam gambar ini terlihat bahwa air akan selalu mengalir di bawah akar sehingga penggunaan air akan optimal.
F.Penambahan nutrisi tanaman Hidroponik
Dalam budidaya tanaman hidroponik tentunya membutuhkan nutrisi yang cukup agar pertumbuhan tanaman dapat optimal.Unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman bermacam-macam dan memiliki berbgai fungsi yang berbeda pula. Fungsi tersebut adalah sebagai berikut.
1.Nitrogen : memacu pertumbuhan daun dan batang serta membantu pembentukan akar. Oleh karenanya, unsur ini baik untuk tanaman sayuran.
2.Fosfor : membantu pembentukan bunga dan buah serta mendorong pertumbuhan akar muda.
3.Kalium: membantu pembentukan bunga dan buah serta menguatkan tanaman.
4.Kalsium : membantu pertumbuhan ujung-ujung akar dan pembentukan bulu akar.
5.Magnesium : ikut dalam pembentukan zat hijau daun dan menyebarkan unsur fosfor ke seluruh tanaman.
6.Sulfur (belerang): bersama unsur dapat mempertinggi kerja unsur lain dan memproduksi energi.
7.Ferum: ikut dalam pembentukan zat hijau daun dan menghasilkan klorofil serta membantu pembentukan enzim pernapasan.
8.Mangan: ikut dalam pembentukan zat hijau daun dan membantu penyerapan nitrogen.
9.Borium: membantu pertumbuhan meristem.
10.seng (Zn) : ikut dalam pembentukan auksin (hormon tumbuh).
11.Molibdenum: berperan dalam mengikat Nitrogen sehingga penting untuk sayur-sayuran (Lingga.1986).
Nutrient dalam hidroponik dapat diperoleh dengan meramu sendiri atau membelinya dalam bentuk jadi. Nutrien hasil hasil ramuan sendiri biasanya digunakan oleh orang yang menjadikan hidroponik sebagai suatu usaha.
Pemberian nutrisi ini dapat mengikuti prosedur berikut.
Tabel 1. Pemberian pupuk dalam masa pertumbuhan
No Jenis
Pupuk Masa Pertumbuhan
(g/100 l) Masa Pembuahan
(g/100 tanaman)
1. KNO3 25 25
2. TSP 25 20
3. Ca(NO3)2 25 25
4. MgSO4 20 30
5. NPK 25 30
6. H3BSO4 14 14
7. FeSO4 10 14
8. MnSO4 10 10
9. ZnSO4 2 2
10. CuSO4 0,4 0,4
11. ZA - 10
G.Pemilihan tanaman untuk dibudidayakan dengan hidroponik.
Batasan tanaman yang dapat dihidroponikan kurang jelas karena sampai sekarang jenis tanaman yang dapat dihidroponikan terus bertambah.Memang sampai saat ini belum semua tanaman dapat dihidroponikan , tatapi ada kemungkinan semuanya dapat dihidroponikkan. Kunci dari dapat atau tidaknya tanaman dapat dihidroponikkan tergantung dari nutrien yang diberikan.
Jenis tanaman yang telah banyak dihidroponikkan dari golongan tanaman hias antara lain philodendron sp., draceana sp., aglonema sp., dan spatylum sp. Dari jenis sayuran yang dapat dihiroponikkan antara lain paprika, tomat, mentimun, salada, sawi, kangkung, dan bayam. Adapun jenis tanaman buah yang dapat dihiroponikkan anatara lain melon,jambu air, kedondong bangkok, dan belimbing.
Tetapi melihat media yang akan digunakan adalah bubur kertas maka dianjurkan tanamaan tersebut memiliki akar serabut yang banyak dan memiliki karakteristik akar yang kuat.
II.Cara Penanaman.
Cara bertanam sistem hidroponik ini seperti halnya pada proses penanaman tanaman biasa,karena media yang digunakan cukup mudah untuk di gunakan.Tetapi yang perlu diperhatikan adalah proses pembuatan media dan pemberian nutrisi dalam media sehingga pertumbuhan tanaman akan optimal.
Gambar Tanaman dalam media Hiroponik.
III.Hama dan Penyakit
Pengendalian dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan pestisida.
IV.Pemanenan
Yang tepenting dalam hal pemanenan adalah jenis tanaman yang akan dipanen apakah jenis buah-buahan ataupun jenis sayuran,untuk hal ini cukup dapat sesuaikan dengan jenis tanamannya dan permintaan pasar atau keinginan dari pembudidaya.
Proses pemanenan untuk tanaman sayuran cukup mudah karena tanaman hidroponik cukup bersih dan efisien sehingga proses pencucian tanaman ini cukup mudah.
Penutup
Dalam pembudidayaan tanaman hidroponik akan memperoleh banyak sekali manfaat mulai dari sejuknya daerah disekitar tanaman, mengurangi polusi diperkotaan serta menjadi salah satu bentuk sistem pertanian modern. Hal ini mendorong banyak pihak baik para pebisnis ataupun para hobi untuk mengembangkan teknologi hidroponik ini, damapak positif yang lain adalah dapat terselesaikanya masalah sampah kertas yang sering menumpuk karena memang konsumsi kertas untuk berbagai keperluan yang meningkat. Perkembangan lebih lanjut adalah terciptanya suatu bentuk sistem pertanian yang ramah ligkungan, memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan lebih modern.
Daftar Pustaka
Lingga, P.1986.Petunjuk Penggunaan Pupuk.Penerbit Swadaya: Pondok cina Jakarta
Suhardiyanto, H.2009.TeKnologi Rumah Tanaman untuk Iklim Tropika
Basah: Pemodelan dan Pengendalian Lingkungan. IPB Press, Bogor.
Prihmantoro, H.,Hetty Indriani,Y.1994.Hidroponik Sayuran Semusim Untuk Bisnis dan Hobi. Penerbit Swadaya: Jakarta.
Rabu, 05 Mei 2010
kebebasan pers di Indonesia
Selasa, 9 Februari 2010 - 09:55 wib
Okky F Suryatama -KOMPAS
SURABAYA - Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya Donny Maulana berpendapat, pada Hari Pers Nasional (HPN) 2010 masih ada tiga belenggu pers di Indonesia, di antaranya kebebasan, profesionalisme, serta kesejahteraan profesi.“Ya benar, dalam HPN 2010 ini pers atau jurnalis di Indonesia masih saja dibelenggu, kebebasannya, profesionalismenya, serta kesejahteraan profesi itu sendiri,” ujarnya, ketika dihubungi wartawan, di Surabaya, Selasa (9/2/2010).
Donny berpendapat, untuk kebebasan pers belenggu itu tampak dengan adanya banyaknya kasus pada jurnalis dan media, seperti ancaman, kekerasan, sampai pada taraf kematian.
“Kebebasan pers ini masih saja dibelenggu dengan banyaknya kasus yang terjadi pada jurnalis seperti pembunuhan, ancaman, pemukulan, dan lainnya,” paparnya.
Profesionalisme pers, Donny menambahkan, contoh terbelenggu ketika nara sumber memberikan amplop suap dengan tidak memuat kebenaran dan kejujuran fakta yang diungkapkan. Selain itu, kesejahteraan profesi jurnalis semakin terancam, seharusnya media memberikan upah layak.
“Upah layak yang diperjuangkan AJI sampai saat ini untuk kesejahteraan profesi jurnalis, yang memang kenyataanya tidak layak, masih ada jurnalis tidak mendapatkan upah layak bahkan di bawah UMR,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Donny memaparkan, pada 2007-2009 Aji mencatat, setidaknya ada 80 kasus wartawan, di antaranya kasus pembunuhan wartawan di Bali. Dia melanjutkan, jika pada masa orde baru rezim Soeharto pers dibredel, tidak dengan orde SBY, kebebasan pers terancam dengan soft atau lembut, semisal pasal-pasal yang menjerat, ini merupakan bentuk dari kriminalisasi pers.(mbs)
Dengan bentuk-bentuk penekanan terhadap pers tersebut maka telah terbukti penyelewengan UUD 1945 sebagai dasar hukum di Indonesia sehingga perlu adanya pembenahan untuk menjadi pers yang lebih baik yang dapat menjadi media dalam mencapai negara yang demokrasi,pembenahan tersebut dapat dari dalam ataupun luar di ruang lingkup pers.
Okky F Suryatama -KOMPAS
SURABAYA - Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya Donny Maulana berpendapat, pada Hari Pers Nasional (HPN) 2010 masih ada tiga belenggu pers di Indonesia, di antaranya kebebasan, profesionalisme, serta kesejahteraan profesi.“Ya benar, dalam HPN 2010 ini pers atau jurnalis di Indonesia masih saja dibelenggu, kebebasannya, profesionalismenya, serta kesejahteraan profesi itu sendiri,” ujarnya, ketika dihubungi wartawan, di Surabaya, Selasa (9/2/2010).
Donny berpendapat, untuk kebebasan pers belenggu itu tampak dengan adanya banyaknya kasus pada jurnalis dan media, seperti ancaman, kekerasan, sampai pada taraf kematian.
“Kebebasan pers ini masih saja dibelenggu dengan banyaknya kasus yang terjadi pada jurnalis seperti pembunuhan, ancaman, pemukulan, dan lainnya,” paparnya.
Profesionalisme pers, Donny menambahkan, contoh terbelenggu ketika nara sumber memberikan amplop suap dengan tidak memuat kebenaran dan kejujuran fakta yang diungkapkan. Selain itu, kesejahteraan profesi jurnalis semakin terancam, seharusnya media memberikan upah layak.
“Upah layak yang diperjuangkan AJI sampai saat ini untuk kesejahteraan profesi jurnalis, yang memang kenyataanya tidak layak, masih ada jurnalis tidak mendapatkan upah layak bahkan di bawah UMR,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Donny memaparkan, pada 2007-2009 Aji mencatat, setidaknya ada 80 kasus wartawan, di antaranya kasus pembunuhan wartawan di Bali. Dia melanjutkan, jika pada masa orde baru rezim Soeharto pers dibredel, tidak dengan orde SBY, kebebasan pers terancam dengan soft atau lembut, semisal pasal-pasal yang menjerat, ini merupakan bentuk dari kriminalisasi pers.(mbs)
Dengan bentuk-bentuk penekanan terhadap pers tersebut maka telah terbukti penyelewengan UUD 1945 sebagai dasar hukum di Indonesia sehingga perlu adanya pembenahan untuk menjadi pers yang lebih baik yang dapat menjadi media dalam mencapai negara yang demokrasi,pembenahan tersebut dapat dari dalam ataupun luar di ruang lingkup pers.
LOMBA PENULISAN ARTIKEL ILMIAH PERTANIAN BERBASIS WEB
BAGI MAHASISWA TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
TUJUAN
Lomba penulisan artikel ilmiah pertanian berbasis web ini dimaksudkan agar para mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama – Institut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural University ) memahami dan ikut menyebarluaskan informasi tentang pertanian serta menumbuhkan kesadaran akan Internet sebagai media penyebaran informasi pertanian.
MASA LOMBA
Lomba penulisan artikel ilmiah pertanian berbasis web ini berlangsung dari tanggal 20 April 2010 sampai 15 Mei 2010. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 20 Mei 2010.
KETENTUAN LOMBA*)
1. Lomba dibagi ke dalam empat bidang
a. Pertanian dan Pangan
b. Teknologi dan Energi
c. Sosial dan Ekonomi
d. Kesehatan dan Lingkungan
Kelompok Ilmu Dasar (MIPA dan Sosial) dapat merujuk pada semua bidang lomba di atas
2. Naskah ditulis di media web, dapat berupa blog maupun web pribadi
3. Naskah asli dan belum pernah diterbitkan, dapat berupa hasil penulisan makalah MK Pengantar Ilmu Pertanian, atau naskah baru.
4. Naskah WAJIB menyantumkan minimal 5 (LIMA) referensi yang diambil dari situs-situs web di bawah domain IPB.AC.ID dengan menyertakan tautan (link) penuh dari karya yang direferensi. Situs-situs yang dapat dijadikan referensi antara lain
a. IPB Information Resource Center (iirc.ipb.ac.id)
b. E-material Perpustakaan IPB (e-material.perpustakaan.ipb.ac.id)
c. LPPM IPB (lppm.ipb.ac.id)
d. RKS IPB (rks.ipb.ac.id)
e. Dan situs-situs departemen/unit terkait di bawah domain ipb.ac.id yang mempublikasikan materialnya.
5. Naskah artikel yang dipublikasikan lebih dari tanggal 15 Mei 2010 tidak akan dinilai
6. Naskah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan substansi tulisan yang mengutamakan penguasaan konsep, ide, dan gaya penulisan yang menarik.
7. Ilustrasi berupa gambar, tabel, dan foto sangat dianjurkan, dengan menyertakan tautan dari sumber tersebut jika ada.
8. Panjang artikel ilmiah SETARA dengan penulisan minimal 5 halaman A4
9. Blog/Web pribadi tempat publikasi artikel ilmiah dilampiri data diri singkat pada bagian ABOUT ME yang menyantumkan status sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural University) dan memberikan tautan (link) ke http://www.ipb.ac.id
10. Konfirmasi pendaftaran peserta dan tata cara penulisan dapat dilihat di 1) www.ipb.ac.id/lombaartikel/
a. Nama
b. NIM
c. detail alamat blog/web pribadi yang berisi artikel ilmiah.
d. bidang kajian dari empat bidang yang dilombakan
*) Keterangan lebih lanjut dapat diperoleh di BEM TPB, Direktorat TPB dan Direktorat Komunikasi dan Sistem Informasi IPB
PENJURIAN DAN HADIAH
1. Naskah akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas akademisi dan pakar di bidang pertanian dalam arti luas
2. Putusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat
3. Hadiah bagi pemenang untuk tiap bidang yang dilombakan , masing-masing
a. Bidang Pertanian dan Pangan
Juara I : Rp 2.000.000,-
Juara II : Rp. 1.500.000,-
Juara III : Rp. 1.000.000,-
b. Teknologi dan Energi
Juara I : Rp 2.000.000,-
Juara II : Rp. 1.500.000,-
Juara III : Rp. 1.000.000,-
c. Sosial dan Ekonomi
Juara I : Rp 2.000.000,-
Juara II : Rp. 1.500.000,-
Juara III : Rp. 1.000.000,-
d. Kesehatan dan Lingkungan
Juara I : Rp 2.000.000,-
Juara II : Rp. 1.500.000,-
Juara III : Rp. 1.000.000,-
Langganan:
Komentar (Atom)
